My Turn To Cry

My Turn To Cry 2_melurmutia

MY TURN TO CRY

Author : melurmutia

The Casts : Zhang Yixing & a girl

Supported cast : The rest member of EXO-M

Genre : Sad, Christmas Edition

Rating : General

Length : Ficlet

Disclaimer : I do not own the casts by the story

Note : Ini versi EXO-M. Untuk EXO-K-nya bisa baca The First Snow. I hope you enjoy the story 🙂

Yixing menyusuri koridor ruang rawat inap dengan tergesa-gesa. Ia menggigil. Jaket tebalnya sudah basah oleh hujan salju tadi. Ia memindahkan keranjang buah dari tangan kanannya yang sudah agak pegal ke tangan kirinya. Begitu matanya menangkap sebuah nomor kamar yang ditujunya, Yixing bergegas memutar kenop pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Begitu pintu terbuka, seketika udara dari penghangat ruangan menerpa wajahnya, membuatnya lega. Ia meletakkan jaketnya di sebuah gantungan baju dekat pintu dan berjalan menghampiri seorang gadis yang terbaring lemah di tempat tidur.

Ni hao ma, jiejie (bagaimana kabarmu, kak)?” sapa Yixing sambil tersenyum. Diletakkannya keranjang buah di meja kecil di samping tempat tidur.

“Xing, kau sudah datang?”

“Aku sudah beli jeruk Mandarin favoritmu. Kau harus menghabiskannya.”

Yixing langsung membuka plastik keranjang buah. Ia mengambil dua buah jeruk dan mencucinya sambil bercakap ringan dengan gadis itu. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur dan dengan hati-hati menyuapkan jeruk kepada sang pasien.

“Manis tidak?” tanya Yixing sambil terus mengupas buah tersebut.

Gadis itu tersenyum tipis, membuat Yixing ikut memperlihatnya lesung pipinya yang dalam. Tidak lama setelah ia selesai berbincang-bincang, ia bangkit berdiri dari sisi tempat tidur. Hal tersebut membuat senyum di wajah gadis itu memudar. Bagaimana tidak, setiap hari Yixing harus bekerja ekstra keras hanya untuk menutupi biaya pengobatan kakaknya. Ia bahkan harus bekerja di malam hari untuk mencari uang tambahan.

“Kau mau menyanyi lagi?” tanya gadis itu.

“Teman-temanku sudah menungguku.”

Yixing mengibaskan jaket tebalnya yang sudah agak mengering dan bersiap untuk ke taman kota. Di tempat tersebut, ia selalu bernyanyi bersama band-nya dan mendapatkan uang dari orang-orang sekitar yang lalu lalang. Pendapatan mereka dalam sehari dari hasil menyanyi terbilang lumayan dan bisa untuk membeli beberapa obat untuk gadis itu.

“Xing, jangan paksakan dirimu. Sesekali pergilah berkencan dengan gadis yang kau sukai. Kau punya pacar kan?” tanya gadis itu dengan suara parau. “Lebih baik uang itu kau belikan kado untuknya.”

“Hhhh… kalaupun untuk beli kado, aku lebih baik membelinya untukmu,” jawab Yixing sambil mengenakan jaketnya. “Aku akan bekerja lebih keras. Kalau kita sudah dapatkan donor jantung, tidak ada lagi yang perlu kita pikirkan. Jiejie akan segera sembuh. Setelah itu, kita tinggalkan Seoul dan kembali ke Changsha. Mama sudah menunggu kita.”

Yixing terhanyut menatap kedua mata kakaknya yang mulai digenangi air mata. Ia menggenggam sebelah tangan gadis itu yang tidak berbalut infus dan menepuk pelan pundak kakaknya kemudian terdiam. Yixing tidak terlalu pandai berkata-kata dalam menghibur seseorang. Apa yang ia lakukan sekarang sudah menyampaikan isi hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sebutir bening mengalir turun dari pelupuk mata gadis itu.Yixing seakan terpukul. Hal itu terjadi setiap hari. Yixing sudah tidak sanggup melihatnya.

***

Di tengah taman kota, Yixing melihat teman-temannya berdiri membaur bersama para penonton yang bergerombol di ujung sana. Ia mendesah pelan. Rupanya ia terlambat. Band yang lainnya telah mendahului band-nya mengambil tempat itu untuk bekerja. Yixing menghampiri mereka sambil berlari-lari kecil. Last Christmas yang terlantun dari band yang sedang tampil di depannya terdengar makin jelas. Ia juga melihat penonton begitu menikmati penampilan mereka. Hati Yixing semakin tertekan, tidak enak hati terhadap teman-teman band-nya.

Mianhae, aku terlambat lagi!” kata Yixing dengan berat hati. “Tadi aku ke rumah sakit dulu lalu…”

Gwaenchana. Ini bukan salahmu. Mereka saja yang seenaknya langsung masuk ke wilayah kita untuk mencari uang. Bagaimana kakakmu?” jawab Kris dingin tanpa menengok ke arah Yixing di belakangnya.

“……..dia baik-baik saja,” Yixing tidak langsung menjawab.

“Tidak ada gunanya lagi kita di sini. Bagaimana kalau kita jenguk kakakmu?” usul Chen mencairkan suasana.

Keurae! Lagipula sudah lama kita tidak mengunjungi kakakmu,” tambah Xiumin.

“Kita harus beli sesuatu dulu untuknya,” ujar Luhan sambil berpikir dengan dahi berkerut.

“Bagaimana kalau jeruk Mandarin? Jiejie sangat menyukainya,” jawab Tao.

Yixing tersenyum kecil akan ketulusan hati teman-temannya. Ia sangat bersyukur karena mereka justru begitu peduli kepada kakaknya, walaupun terkadang Yixing merasa bahwa ia sering membawa masalah bagi band-nya karena harus selalu menemani kakaknya di rumah sakit. Namun, teman-temannya tidak pernah menganggap bahwa hal tersebut adalah masalah besar. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah sakit pusat kota yang terletak di seberang jalan taman tersebut. Hanya butuh beberapa menit dengan berjalan kaki.

Di koridor ruang rawat inap, tiba-tiba langkah kaki mereka terhenti. Tepat di depan pintu kamar kakak Yixing yang dirawat, para suster sedang berkerumun. Terlihat mereka sedang berusaha menahan seorang pria tua dengan pakaian compang-camping yang sedang berteriak-teriak gila. Pria itu mengamuk, mencaki-maki para suster dalam bahasa Mandarin. Selain Yixing yang begitu kaget menyaksikannya, member lain hanya saling pandang, terutama Chen dan Xiumin. Luhan, Kris, dan Tao mengerti benar ucapan pria tersebut. Kini orang itu menarik tempat tidur pasien keluar dari ruangan rawat inap dengan paksa, diikuti teriakan para suster. Pengunjung rumah sakit lain kini bergerombol di tempat tersebut. Gadis itu terbaring lemah. Wajahnya yang pucat nampak jelas di kejauhan. Yixing yang syok langsung berlari menghampiri pria tua itu.

Papa, hentikan! Papa!”

Yixing berusaha menyingkirkan tangan ayahnya dari ujung tempat tidur, memintanya untuk menghentikan tindakan nekatnya. Hal itu membuat tubuh sang pasien yang tidak sadarkan diri terguncang, terombang-ambing dalam perbaringannya. Pikiran Yixing berkecamuk, tidak habis pikir kenapa ayahnya tega melakukan hal ini. Sebuah tamparan keras melayang, membuat Yixing terbelalak. Sang ayah mencengkeram jaket Yixing dan melemparkan tatapan membunuh. Suasana kian menegang. Napas seakan tertahan.

“Akhiri semuanya! Biarkan dia pergi dengan tenang. Kau hanya menghambur-hamburkan uangku. Kau lihat mereka? Mereka justru memberikan donor jantung kepada pasien lain yang seharusnya menjadi jatah gadis ini. Itu karena kita belum punya cukup uang. Kalau tahu seperti ini, dari awal aku tidak akan membiarkan kau dan dia ada di sini! Kau baru pulang kerja, kan? Berikan! Berikan padaku!”

Yixing masih menatap kedua mata ayahnya kemudian mematung. Jantungnya berderu cepat. Ayahnya lalu menggerogoti isi jaket Yixing, mencari sejumlah uang sampai akhirnya orang tua itu diseret pergi oleh satpam. Yixing berusaha untuk mengatur napas. Orang-orang di sekitarnya menatap iba. Seketika para suster langsung memasukkan kembali gadis itu ke dalam ruangan. Orang-orang perlahan berlalu, membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.

“Suster, apa itu benar? Kalau begitu bagaimana dengan kakakku?”

Mereka hanya menunduk lalu pergi sambil berlari-lari kecil, berusaha untuk menghindar. Yixing dengan dada yang sesak kembali mencoba untuk menghadang mereka. Suaranya tertahan, membuat tenggorokannya sakit. Air matanya jatuh begitu saja. Namun, ia harus tetap tenang. Ia tidak ingin para suster itu membenarkan pernyataan ayahnya.

“Ka… kami tidak tahu…”

“Dokter Park! Biarkan aku… menemui dokter Park!” pinta Yixing yang mulai tak terkontrol. “Jiejie harus segera dioperasi. Aku akan mengumpulkan uang lebih banyak lagi!!!”

Orang-orang tersebut memaksa pergi. Teman-teman Yixing berusaha menahannya agar tidak mengamuk. Yixing sudah tidak sanggup berdiri. Ia tak kuasa menahan tekanan hebat di dadanya hingga tangisannya semakin menjadi-jadi saat mereka menghilang dari koridor.

***

Kris, Luhan, Tao, Xiumin, dan Chen meninggalkan rumah sakit dalam diam. Mereka membisu. Sepanjang perjalanan kembali menuju ke taman kota, tidak ada satupun yang angkat bicara. Mereka merenungi peristiwa barusan. Bagaimana bisa di dunia ini terjadi hal demikian?

Mereka tahu bahwa ayah Yixing seorang penjudi, pemabuk berat, dan brutal. Ia datang ke Korea bersama kedua anaknya, berharap mendapatkan penghasilan yang layak di negeri tersebut. Namun, semuanya sama saja. Kakak Yixing terlahir dengan jantung lemah dan hingga kini keadaannya kian memburuk. Siapa lagi kalau bukan Yixing yang harus menanggung semuanya.

Uang dari hasil bernyanyi di taman kota pun terkadang tak segan-segan diberikan secara keseluruhan kepada Yixing untuk biaya pengobatan kakaknya. Mereka rela. Demi orang yang sangat disayangi oleh sahabat baik mereka. Sayangnya sekarang ini, penghasilan mereka tidak sebesar yang sebelumnya. Mereka seakan menyesali hal tersebut, menimbulkan kemarahan dalam jiwa masing-masing.

Christmas eve night, kemarahan itu memuncak. Malam itu mereka melihat orang yang dikenalnya keluar dari sebuah toko. Kris dan yang lainnya menyipitkan mata. Tangan mereka terkepal. Tatapan mata menajam. Entah tindakan mereka benar atau tidak nantinya, mereka tidak tahu.

Tao tiba-tiba berlari mencengkeram lengan orang itu dan menyeretnya ke sebuah lorong kecil yang gelap diikuti oleh Kris, Luhan, Chen, dan Xiumin. Mereka bisa melihat dengan jelas wajah orang itu disinari cahaya lampu jalan. Orang itu, salah satu member band yang merampas tempat mereka, orang yang membuat mereka kesulitan untuk bekerja, orang yang membuat mereka tidak sanggup membantu Yixing seperti dahulu.

“Kau seharusnya sudah tahu tujuan kami menyeretmu ke sini,” ujar Kris melangkah maju mendekati pria di depannya yang ketakutan.

“Sudah kubilang beberapa kali. Itu tempat umum. Siapa pun bisa bernyanyi di sana. Kalian sama sekali tidak punya hak untuk menentukan daerah kekuasaan kalian. Apa urusan kalian hah?” balas orang itu dengan nada sedingin salju.

 “Kali ini kami tidak akan tinggal diam!” ancam Luhan kemudian.

Mereka berlima menghajar habis-habisan orang itu hingga tak berdaya. Mulut orang itu mengeluarkan darah. Pukulan, tinjuan, tendangan, segala macam pelampiasan. Akan tetapi, jauh dalam lubuk hati, mereka menangis. Jiwa mereka menjerit. Bayangan Yixing muncul di benak mereka. Perasaan bersalah menyeruak. Mereka hanya tidak tahu harus menyalahkan siapa atas apa yang terjadi.

***

Malam itu sangat damai. Dari jendela rumah sakit, Yixing menatap keluar. Ia melihat beberapa pasien anak kecil berjaket tebal sedang membuat snowman. Ia tersenyum. Lama-kelamaan pikirannya kosong. Senyumnya pudar. Membayangkan kembali kejadian lalu hingga suara di belakangnya membuyarkan lamunan.

“Yixing!”

Tentu saja Yixing terkejut saat menoleh. Kakaknya sedang berdiri memakai mantel hangat. Selang infus terlepas dari tangan kirinya. Rambut panjangnya yang kecoklatan tergulung rapi. Meski wajahnya pucat pasi, ia terlihat sangat manis tersenyum di hadapan adiknya. Namun, hal tersebut justru mendapat reaksi yang berbeda.

Jiejie! Kau mau kemana dengan penampilan seperti ini? Kau sedang sakit!” seru Yixing sambil memegang pundak kakaknya dengan kening mengerut.

Gadis itu kemudian membelai lembut sebelah wajah adiknya. Yixing nampak terkejut. Hal ini sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya. Jangan-jangan… ia menyerah…

JIEJIE!!!”

“Aku tidak sedang menyerah. Aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu. Biarkan aku melaluinya seperti yang lainnya. Selama ini kau selalu bekerja keras untukku. Itu membuatku sedih. Karena itu, aku berjanji untuk tetap terus bertahan hidup agar selalu berada di sisimu. Tapi… kalau memang aku ditakdirkan untuk mati dalam waktu dekat ini, seperti itulah adanya…”

Yixing tidak langsung menjawab. Ia menutup mata dalam-dalam, tidak mengerti jalan pikiran kakaknya. Begitu ia hendak membantah, kakaknya menyela.

Wo hen hao (aku tidak apa-apa). Malam ini kau bisa melihatku tersenyum lebar. Malam ini aku berjanji tidak akan menangis, seperti yang selalu kau katakan padaku… Karena itu, Yixing, aku mohon padamu…”

Tangan lemah itu yang menarik Yixing berjalan keluar ruangan. Yixing yang terdiam lambat laun tersenyum. Kakaknya begitu bersemangat sampai-sampai ia berjalan cepat. Ketika sampai di pintu utama rumah sakit, Yixing membuka payungnya yang lebar, melingkarkan lengannya di pundak kakaknya, dan berjalan di bawah hujan salju dengan riang. Langkah kaki mereka beriringan menuju taman kota di depan rumah sakit.

Suasana malam itu sangat ramai. Orang-orang bersuka cita dan tertawa. Berbagai macam pameran, pertunjukan, pohon natal, dan ornamen lainnya mewarnai indahnya malam itu. Para pengunjung taman kota menyapanya satu sama lain. Magic Castle milik DBSK samar-samar mengalun. Yixing melihat gadis itu kini banyak berceloteh, tidak seperti biasanya. Senyum merekah di bibir tipis gadis itu, membuat Yixing lega. Berulang kali ia mengingatkan kakaknya agar tidak terlalu kelelahan.

“Happy Christmas!”

Seorang pria dalam kostum Santa Claus datang menghampiri. Ia lalu mengalungkan syal yang diambilnya dari kereta tumpukan kado ke leher gadis itu. Yixing ikut tersenyum melihat kakaknya yang begitu bahagia menerima sebuah hadiah. Beberapa kerumunan anak kecil datang menyapa kakaknya dan disambut hangat olehnya. Mereka memberikan beberapa butir permen coklat.

Saat itu, Yixing merasa bahwa dunia justru sangat mencintai saudaranya. Dari belakang ia melihat interaksi kakaknya dengan anak-anak itu. Malam ini sungguh berbeda. Tidak ada lagi bulir air mata, seperti yang ia janjikan. Hanya ada kebahagiaan. Selama ini setiap malam, tidak ada hal lain yang dilakukan oleh gadis itu selain menangis. Namun, tidak untuk malam ini. Dalam hati ia terus berharap agar apa yang ia saksikan di depannya akan berlanjut untuk selamanya.

Agassi, bernyanyilah bersama kami!”

Segerombolan pria dengan gitar yang melintang di tubuhnya tersenyum ramah. Ia memetik senar dalam chord tertentu. Gadis itu menoleh menatap Yixing dengan penuh harap. Bolehkah? Sorot matanya mengatakan demikian. Yixing hanya mengangguk pelan membiarkannya. Para pria itu mulai memainkan intro hingga suara merdu gadis itu ikut mengalun bersamanya.

You better watch out… you better not cry… you better not pout I’m telling you why… Santa Claus is coming… to town.

Tiba-tiba Yixing merasakan sesuatu. Berbeda dari yang sebelumnya. Segala kegembiraan sirna dalam sekejap. Yang ada hanya rasa takut. Ia lalu kembali memandangi kakaknya yang dengan tenang melantunkan lagu dan  dinikmati begitu banyak pengunjung yang lewat. Dibalik suara tepuk tangan penonton, Yixing justru seakan terpukul. Entah apa yang merasukinya. Ia terus menatap kakaknya hingga tidak berani sedikit pun berkedip. Perasaan itu kembali bermunculan. Perasaan takut kehilangan.

Yixing melihat kakaknya tersenyum kepadanya. Air mata Yixing justru mengalir turun, membuat gadis itu tertegun dan berjalan pelan menghampirinya usai bernyanyi. Yixing tidak sanggup berbicara sepatah kata pun saat kakaknya berdiri di hadapannya, menatapnya begitu dalam. Ia hanya berusaha menahan tangis walaupun itu gagal. Gadis itu memeluk Yixing erat. Dalam rangkulan gadis itu, Yixing terisak kencang. Ia membenamkan wajahnya di pundak gadis itu kuat-kuat. Dirinya seolah hancur membayangkan gadis itu sudah tidak ada lagi di sisinya. Bagaimana bila gadis itu pergi? Ia mempererat pelukannya. Raungan tangis kian keras. Tidak ada kata. Rasa takut luar biasa menggerogotinya.

Tolong selamatkan dia. Biarkan tetap seperti ini. Biarkan dia terus ada di sini, bersamaku…Izinkanlah…

Advertisements
Categories: Chen, EXO Experience, Kris, Lay, Luhan, Tao, Xiumin | Tags: , , , , | 15 Comments

Post navigation

15 thoughts on “My Turn To Cry

  1. kang hae bin

    sedih sedih sedih
    beneran dh ini gregetan bgt sama bapaknya ugh!
    nice!!

  2. bi

    halooo~
    setelah lama berkeliaran akhirnya aku memberanikan diri muncul :3
    love this story by the way :”

    • Keuraeeee ;;;;
      Ne kamsahamnida udah muncul dan baca fanfic-nya hahaaaaa :333
      Senang bgt kalo kamu suka ceritanya, hope you enjoy the fic

  3. orng yg dpukulin itu kyungsoo wktu di first snow kah?
    entah knpa jd sebel sm mereka dsni.. hhe
    gara2 itu adikny baekhyun mninggal 😦

    • Thankyu udah mampir lagi dan baca versi yang ini
      Iya itu kyungsoo dipukulin babak belur sama anak-anak exo-m
      u____u
      Kriminal memang mereka, yang kasihan bukan lay justru baekhyun-nya
      Sekali lagi terima kasih udah baca ^^

  4. Amanda

    Ah ini ada kaitannya ya sama yg first snow? Kalo inget kyungsoo dipukul jadi sedih, nice fanfic authornim, aku suka 🙂

  5. yeollshin

    Huhu ini lagi bikin nangis T.T
    jadi ternyata ini berhubungan sama the first snow ya… Yg mukul kyungsoo trnyata exo m …
    Huhu its my turn to cry 😥
    love this story so much much <3<3<3

    • Iya yg ini versi EXO-M nya
      Terima kasih udah mau baca lagi gomawoooo <3<3<3
      No, it's yixing's turn to cry
      Uljimaaaaaa /kasi tisu lagi/ 🙂

  6. Kak Luluuuu ini keren T T
    bener-bener ngena gimana yixing takut kehilangan kakaknya itu 😦 oh ya kak, ini bersambung apa bagaimana sih? kejadian member M menculik seseorng itu…. kyungsoo kan? kayak yang di the first snow?
    Lalu bagaimana nasibnya nih… kakaknya yixing tetep hidup atau gimana?
    Apa setiap part ada hubungannya dg part berikutnya?

    okedeh itu aja.. ditunggu ya kak lanjutannya! Fighting~~ ^^

    • Halloo terima kasih udah mampir dan baca fanfic 😉
      Sayang sekali ini gak ada sambungannya hehe mianhaeyo
      Iya itu yang diculik Kyungsoo, biar versi EXO-K sama EXO-M ada hubungannya sedikit
      Kalo ending untuk kakaknya Yixing dibiarkan berakhir di situ aja hohohooh
      Gomawoyo buat komentarnya

  7. huhuhuhu, jadi yang mukulin Kyungsoo itu anak EXO-M ;______;
    jadi bingung.. ini kesalahan mereka, tapi mau nyalahin juga gak tega -.-

    yang ini endingnya gantung, kak.. hahaha
    ohiya.. kan kalo di First Snow ada lanjutan kejadian setahun ke depan kan.. pas Kyungsoo sama Baekhyun kayak mengenang anak kecil itu..
    nah, setahun kemudian EXO-M gimana?
    cerita yang ini gak nyampe kesana ya kak… huhuhu ;_____;

    oke deh kak, maaf ya kalo komenku gak panjang :3
    walau ending gantung, tetep suka kok sama fic ini :3
    keep writing, Kak Lulu ^.^)/

    NB : aku masih request yang game itu loh kak… wakakakakaka
    /mian maksa ._./

    • Iya agak gantung
      Terus terang aku gak tega lanjutin ceritanya jadi dibuat segitu aja
      Entah kakaknya nanti meninggal atau dapat donor jantung wuahhh xD
      Sekali lagi terima kasih udah baca dan komentar
      Gak apa-apa kok gak panjang, gak masalah
      Aku hargai banget komentarnya ^^
      Kalo game ntar diliat kkkk kangen juga gak buat game lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: