The First Snow

The First Snow_melurmutia

THE FIRST SNOW

Author : melurmutia

The Casts : EXO-K Do Kyungsoo & a little girl

Support Casts : The rest member of EXO-K

Genre : Angst, Christmas Edition

Rating : General

Length : One Shoot

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni dari author.

Note : Ini versi EXO-K-nya. Untuk EXO-M bisa baca My Turn To Cry. I hope you guys enjoy 🙂

Suasana siang itu tidak terlalu terang. Do Kyungsoo menikmati langkahnya di sepanjang taman kota sambil memerhatikan beberapa pernak-pernik. Setangkai bunga bermahkota pink dalam genggamannya sesekali dilihatnya. Beberapa ahjumma tersenyum ramah kepadanya, menyapanya untuk singgah melihat-lihat barang dagangan yang tertata rapi di meja panjang. Kyungsoo hanya tersenyum, menolak secara halus sambil menggeleng dan membungkuk pelan. Ia terus berjalan pelan dan ketika ia tiba di tempat tujuannya, tiba-tiba hatinya kembali terkoyak. Tepat di samping sebuah toko gingerbread, Kyungsoo berlutut. Pandangannya kosong untuk beberapa waktu yang lama sampai akhirnya ia dengan rela meletakkan bunga di aspal. Sudah setahun berlalu…

Pikiran Kyungsoo dibuyarkan oleh gumpalan kecil putih dingin nan lembut berjatuhan. Oh, the first snow! Ia dan seluruh manusia di sekitarnya serentak menengadah sambil tersenyum. Persis seperti tahun lalu. Apa ini bentuk sapaan darinya?

Oppa datang menemuimu.”

Last year…

Aigu, punggungku!” keluh Kai.

Kyungsoo yang melihatnya hanya tersenyum. Ia dan band-nya seperti biasa menerima tepuk tangan meriah dari orang-orang yang lalu lalang di sekitar taman kota. Kyungsoo lalu melirik isi wadah di bawahnya. Penghasilan hari ini cukup lumayan daripada kemarin. Tidak ada tempat sebagus di sini untuk mencari uang dengan bernyanyi. Baekhyun mengambil wadah di depan dengan wajah berseri.

Hyung, berapa jumlahnya?” tanya Sehun yang tengah membereskan gitar teman-temannya usai tampil.

“Wuihh setidaknya cukup untuk makan selama tiga hari untuk enam orang,” jawab Baekhyun riang.

“Eishh kau bilang itu cukup?” balas Suho dengan alis terangkat.

“Setidaknya aku bisa beli kue untuk adikku malam ini haha…” Baekhyun terkekeh. “Baiklah, saatnya pembagian gaji! Ini untuk Suho hyung, Yeol, ini untukmu. Lalu, Kyungsoo ya… odiya?

“Dia sudah pulang duluan seperti biasa,” jawab Chanyeol, mengarahkan jempolnya ke arah Kyungsoo yang sudah berjalan menjauh di ujung sana.

Kyungsoo tahu kalau teman-temannya pasti sedang menatapnya dari kejauhan. Tapi menurutnya, memang hal itu yang terbaik. Ia sama sekali tidak tertarik dengan uang pemberian orang-orang yang menyaksikan penampilan mereka. Baginya, Suho, Baekhyun, Chanyeol, Kai, dan Sehun lebih membutuhkan uang tersebut. Jangankan biaya sekolah, biaya untuk makan pun sering menjadi masalah bagi mereka. Seringkali mereka memaksa agar Kyungsoo mau menerima uang hasil pembagian karena merasa tidak enak hati. Tidak ingin berdebat, sudah menjadi kebiasaan Kyungsoo yang pergi begitu saja usai tampil.

Langkah Kyungsoo terhenti di depan sebuah toko gingerbread. Bukan karena aroma jahe hangat yang keluar dari toko tersebut, melainkan karena anak kecil yang dilihatnya. Anak perempuan mungil berambut panjang kecoklatan. Berapa umurnya? Lima tahun? Enam? Anak dengan pakaian usang yang dikenakannya sejak tadi hanya berdiri di samping toko. Anak itu memerhatikan setiap pengunjung yang keluar toko yang memeluk bungkusan kertas gingerbread. Tatapan mata anak itu, seperti menginginkan sesuatu. Anak itu tertunduk.

Kyungsoo dengan iseng bersiul, lewat di depan gadis kecil itu lalu memasuki toko. Kyungsoo membeli beberapa buah gingerbread dan saat mengantri di kasir, ia melirik ke arah jendela besar toko. Gadis kecil itu menatapnya dari jauh dengan wajah polosnya. Begitu Kyungsoo mengeluarkan uang dari dompet ketika hendak membayar, Kyungsoo tersenyum, baru mengerti keadaan yang sebenarnya.

Begitu ia keluar toko, anak itu bersembunyi di balik pagar kayu pembatas agar tak terlihat olehnya. Kyungsoo tertawa geli dan menghampirinya. Ia duduk berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan anak itu. Tiba-tiba ia menyodorkan bungkusan gingerbread itu kepada gadis kecil di depannya.

“Ambillah,” kata Kyungsoo lembut.

“…untukku? Jinjjaeyo?” jawabnya malu-malu.

Ne, oppa sengaja belikan ini untukmu.”

Oppa kamsahamnida!”

Kyungsoo bisa melihat jelas perubahan ekspresi anak itu yang langsung berbinar. Senyumannya membuatnya terlihat bak malaikat kecil. Hati Kyungsoo seakan lapang, tenteram, dan ikut senang.

“Kenapa kau sendirian di sini?” tanya Kyungsoo lagi.

“Aku menunggu kakakku selesai bekerja,” jawab gadis itu dengan mulut penuh remah gingerbread. “Kakakku seorang penyanyi jalanan. Suaranya merdu.”

“Orangtuamu dimana?” Kyungsoo mengelap bibir anak itu dengan ujung jarinya.

“Mereka ada di surga.”

Mendengar jawaban anak itu membuat Kyungsoo menghentikan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Ia lebih memilih ikut tersenyum. Tiba-tiba beberapa benda putih kecil ringan berjatuhan dari langit. Ohh, the first snow! Kedua orang itu pun menengadah. Sang gadis kecil terlihat begitu bersemangat melambai-lambaikan tangannya ke udara, menikmati salju pertama.

***

Untuk kesekian kalinya lagi-lagi Kyungsoo langsung beranjak dari tempatnya tanpa menerima uang pembagian. Teman-teman Kyungsoo kini tidak tahan lagi. Biar bagaimana pun, Kyungsoo tetap harus memperoleh bayaran. Tidak peduli seberapa keras ia menolak, ia harus tetap mau menerimanya. Kini para member menghadang jalannya.

“Aku bukannya mau menolak uang itu, tapi aku buru-buru sekarang. Ada seseorang yang ingin kutemui,” ujar Kyungsoo terkesan mencari-cari alasan

“Itu bukan alasan. Memangnya siapa orangnya? Pacar barumu?” goda Suho yang langsung disambut tawa oleh yang lainnya.

Aniya!” Kyungsoo memutar bola matanya.

Tidak ada yang mampu melawan sifat keras kepalanya, akhirnya mereka membiarkan Kyungsoo pergi. Kyungsoo berlari-lari kecil menyusuri sepanjang taman kota menuju tempat di depan toko gingerbread. Suhu udara kembali menurun. Ia menengadah. Sepertinya sebentar lagi akan turun salju dan dugaannya benar. Begitu ia melihat sosok anak kecil yang duduk sendirian di bangku taman di antara orang-orang yang lalu lalang, bibirnya terlukis senyuman.

“Oppaaaa…” teriak anak itu girang dengan suara melengkingnya sambil melambaikan tangan.

Anak itu memeluk kedua kaki Kyungsoo erat. Kyungsoo balas menyambutnya dengan membelai lembut kepalanya. Mereka berdua kembali duduk di bangku taman setelah Kyungsoo menyodorkannya segelas coklat hangat dari mesin penjual minuman.

“Coklatnya enak?” tanya Kyungsoo ramah.

Ne!”

Di tengah udara dingin tersebut, Kyungsoo diselimuti oleh kehangatan hanya dengan melihat tingkah lucu gadis mungil itu. Perhatiannya lalu tertuju pada baju hangat anak itu yang sudah menipis, lusuh, dan usang. Anak itu bahkan tidak memakai sarung tangan. Kyungsoo lalu melingkarkan syal dari lehernya ke gadis kecil tersebut. Ia juga memakaikan sarung tangannya agar anak itu tidak kedinginan. Ia lalu mendudukkan anak itu di pangkuannya. Mereka lalu bercerita panjang lebar. Tentu saja dominan Kyungsoo yang melontarkan pertanyaan dan dijawab seadanya.

“Ahh oppa lihat! Saljunya indah sekali.”

“Kau bisa sakit kalau terlalu lama bermain salju,” Kyungsoo meraih sebelah tangan anak itu dan membantunya menggapai beberapa keping salju yang berjatuhan.

“Aku tidak akan sakit. Ini ada syal dan sarung tangan oppa. Hehehe…”

Kyungsoo mencubit pelan pipi anak itu sambil tertawa. Tiba-tiba di otaknya terlintas sesuatu. Ahh kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Ia bisa membelikan baju hangat, syal, dan sarung tangan sebagai kado natal. Tapi, bagaimana ia memberikannya?

“Mau tidak kalau kita bertemu lagi di christmas eve nanti?” tanya Kyungsoo lagi. “Oppa punya kejutan untukmu.”

Oppa jinjjaeyo? Ne, kita bisa bertemu di sini. Kebetulan christmas eve nanti kakakku masih bekerja jadi sekalian aku menunggunya. Tapi, kejutan apa yang oppa mau berikan? Ngg… kado natal?”

“Anak pintar! Oppa akan berikan kado natal yang akan membuatmu selalu tetap hangat. Jadi, kau tidak akan sakit.”

Kamsahamnida oppa. Tapi, bagiku biar tidak dapat kado natal sekali pun, aku sangat senang bisa bertemu oppa saat salju pertama turun dulu. Itu sudah jadi kado terindah untukku. Setiap malam aku berdoa agar bisa terus bersama oppa.”

Mendengar hal tersebut, Kyungsoo terpaku. Anak polos itu seakan sangat nyaman berada di pangkuan Kyungsoo sambil memainkan salju di udara. Kyungsoo memperbaiki letak syal di leher anak itu.

Ne, kita akan bertemu lagi. Oppa janji…”

***

Malam itu, butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk mengitari toko dan akhirnya piihannya jatuh pada jaket merah mungil dengan bulu putih di pangkal lengan. Tidak ketinggalan pula syal dan sarung tangan hijau. Kyungsoo keluar toko dengan senyum merekah menatap bungkusan cantik di tangannya kemudian menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Christmas eve night tahun ini lebih ramai dari tahun lalu dan ahh salju turun! Gawat, ia harus bergegas menemui gadis kecil itu. Ia mempercepat langkahnya.

Segalanya masih baik-baik saja sebelum ia merasakan lengannya dicengkeram kuat oleh seseorang. Kyungsoo terlonjak kaget. Namun, belum sempat ia menoleh, dirinya telah diseret oleh segerombolan berandal. Entah mengapa Kyungsoo mau saja mengikuti arah kemana orang-orang itu membawanya pergi tanpa memberontak. Dari luar ia terlihat tenang. Namun, wajahnya memucat bukan karena dinginnya udara, melainkan karena rasa takut yang luar biasa menghampirinya.

Mereka baru melepaskan lengan Kyungsoo di sebuah lorong kecil dan gelap, dimana tempat tersebut tidak terjamah oleh orang-orang di sekitar. Samar-samar wajah mereka perlahan disinari cahaya lampu jalan. Mata Kyungsoo membesar.

Mereka… para penyanyi jalanan yang sama sepertinya…

“Kau seharusnya sudah tahu tujuan kami menyeretmu ke sini,” ujar salah seorang di antaranya.

“Sudah kubilang beberapa kali. Itu tempat umum. Siapa pun bisa bernyanyi di sana. Kalian sama sekali tidak punya hak untuk menentukan daerah kekuasaan kalian. Apa urusan kalian hah?” balas Kyungsoo dengan nada sedingin salju.

Hal ini sudah berlangsung lama. Kyungsoo dan band-nya seringkali harus berhadapan melawan preman-preman ini karena para begis itu menganggap bahwa Kyungsoo telah mengambil daerahnya untuk mencari uang. Suho, Baekhyun, Chanyeol, Kai, dan Sehun bahkan lebih tidak peduli terhadap mereka karena tempat itulah satu-satunya yang paling strategis dan paling sering dilalui orang-orang.

“Kali ini kami tidak akan tinggal diam!”

Mendengar hal tersebut, Kyungsoo jadi merinding takut. Mereka mulai berjalan pelan ke arahnya. Dengan gemetar Kyungsoo perlahan mundur. Baiklah, kalau soal bernyanyi di dunia ini ia percaya tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tapi, kalau soal bela diri…

BUKKK!!!

Seketika Kyungsoo menerima tinjuan di perut, membuat percikan darah keluar dari mulutnya, menodai putihnya salju di lantai gang. Datang lagi tinjuan yang melayang tepat ke pelipisnya, membuat pandangannya sekilas kabur. Rasa sakit itu pun datang bertubi-tubi. Dirinya kini terkulai lemah. Ia berusaha melindungi diri namun tak berkutit saat para preman itu menendanginya beramai-ramai.

Belum sempat mereka puas meluapkan kekesalan, tiba-tiba badai salju bertiup kencang. Mau tidak mau, mereka harus segera pergi dari tempat itu. Badai salju yang turun kian menggila. Dalam keadaan setengah sadar dan kedinginan, Kyungsoo melihat bungkusan kado yang sudah rusak karena diinjak. Tiba-tiba bayangan wajah anak itu muncul. Tersenyum kepadanya. Ia berusaha menggapai kado itu dengan tangannya. Akan tetapi, semuanya seketika menggelap.

***

“BAEKYOUNG-AH!!! BYUN BAEKYOUNG!!!”

Di tengah malam dengan terpaan badai salju, Baekhyun berteriak di sepanjang taman kota sambil menangis meraung-raung. Suasana taman saat ini terlihat begitu mencekam. Badai salju lebat membuat orang-orang ketakutan dan kembali berlindung di rumah masing-masing. Tidak peduli dinginnya salju mengiris kulitnya, Baekhyun terus berlari, meneriakkan nama adiknya.

“Baekhyun-ah, badai salju semakin parah. Kita harus berhenti dan menyerahkan semuanya ke polisi. Sudah kesekian kalinya kita kembali ke tempat ini tapi adikmu tetap tidak ditemukan,” bujuk Suho sambil menepuk pundak Baekhyun yang hampir gila.

ANDWAE!!! ANDWAE!!! BAEKYOUNG-AH!!!”

Sehun, Kai, dan Chanyeol ikut membantu Suho menahan tubuh Baekhyun untuk tidak bertindak lebih jauh lagi. Baekhyun meraung frustrasi. Air matanya tumpah. Kepalanya tetap memutar ke setiap penjuru, mencari-cari sosok yang begitu disayanginya. Hatinya terus berharap agar adiknya ada di depan matanya sehingga ia hanya perlu berlari menghampirinya, memeluk tubuhnya yang kedinginan, membawanya ke tempat yang hangat. Namun, hingga detik ini, pukul dua lebih tengah malam, harapannya belum terkabulkan.

Teman-temannya yang lain sudah seakan hampir membeku, tidak sanggup lagi untuk membantu Baekhyun. Namun, mereka sendiri tidak tega melihat keadaan temannya. Di saat seperti ini, memang sia-sia untuk membujuk Baekhyun untuk menghentikan pencarian karena memang di dunia ini tidak ada satupun seorang kakak yang tega membiarkan adiknya kedinginan di luar sana, atau yang terburuknya, mati beku.

Baekhyun kini jatuh berlutut, kedua tangannya mengepal keras ke salju. Ia terengah-engah. Bibir dan rambutnya membeku. Ia tidak bisa merasakan apapun di kulitnya. Uap dingin yang terhembus dari mulutnya kian menebal. Yang tersisa hanya rasa sakit dan bayangan adiknya.

Oppa, tadi ada kakak yang memberiku gingerbread.

Baekhyun meringis. Hari itu, saat uang penghasilan mereka berlebih, ia baru saja membelikan Baekyoung sekantung kecil gingerbread. Tentu saja ia tahu bahwa adiknya itu begitu mengidam-idamkan kue tersebut. Baekyoung selalu menunggunya pulang tepat di depan toko kue tersebut usai tampil. Namun, hari itu ketika Baekhyun yang miskin akhirnya bisa memenuhi permintaan terbesar Baekyoung, adiknya itu justru tidak terlalu terkesan lagi. Ada orang lain yang mendahuluinya.

Oppa, hari ini aku bertemu kakak itu lagi. Dia memberiku coklat hangat. Kami bermain di  bawah hujan salju.

Kenapa ia memperlakukan adiknya sedemikian rupa hingga Baekyoung tidak lagi mengenal waktu kalau sudah berbicara tentangnya. Orang itu begitu memenuhi pikiran dan jiwa adiknya.

Oppa, boleh tidak aku menunggu oppa selesai bekerja hari ini? Kakak itu janji mau memberiku hadiah. Aku akan menunggumu di depan toko yang biasa. Aku janji tidak akan nakal.

Mengapa ia menghilang bersama adiknya? Entah apakah ia menculik adiknya atau membiarkan adiknya menggigil sendirian di suatu tempat lain sambil menunggu, ia sama sekali tidak habis pikir. Mengapa orang itu tega melakukannya…

***

Nyeri hebat melanda kepala Kyungsoo. Ini akibat tinjuan di pelipisnya tadi. Kyungsoo bangkit dari tidurnya sambil meringis. Ia perlahan memegang kepalanya yang berbalut perban. Tunggu! Diperban? Bola mata Kyungsoo seakan hampir keluar karena terkejut. Suhu di sekitarnya begitu hangat. Begitu kesadarannya sempurna, betapa herannya ia berada di sebuah klinik kecil dekat dari tempat saat ia dikeroyok tadi. Apa orang-orang yang kebetulan lewat gang telah menyelamatkannya?

Siapa yang membawaku ke sini?

Batin Kyungsoo mulai dirasuki kekhawatiran. Anak itu, bagaimana…Ia panik, gemetaran, tidak tahu harus berbuat apa. Perhatiannya lalu tertuju pada jam dinding di samping tempat tidur. Pukul setengah tujuh pagi. Dadanya mulai sesak. Tanpa pikir panjang Kyungsoo beranjak dari tempat tidur. Namun, begitu sebelah kakinya hendak maju melangkah, lagi-lagi nyeri hebat datang sehingga ia harus meringis sejenak.

Kyungsoo tidak peduli. Walau bagaimana pun, ia harus menahannya. Dengan langkah pincang, ia keluar klinik tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Ia harus bergegas. Apakah anak itu menunggunya? Di tengah perjalanannya Kyungsoo tersenyum tipis. Pasti kakak anak itu telah datang menyelamatkannya. Tidak mungkin anak itu akan berada semalaman di bawah badai salju hanya dengan berbalut mantel usang tipis, ‘hanya untuk menunggunya’. Kyungsoo merasa sedikit lega karena kekhawatirannya berlebihan. Ia hampir sampai. Tinggal beberapa meter lagi.

Tiba-tiba Kyungsoo terhenti. Ia menopang tubuhnya yang lemah dengan satu tangan pada dinding bangunan di sampingnya. Dari jauh ia melihat segerombolan orang-orang dan polisi berkerumun. Dilihatnya garis polisi melintang di depan toko gingerbread. Sirine ambulans memekakkan telinga. Kyungsoo terdiam. Lambat laun perasaannya berkecamuk. Dadanya bergemuruh keras. Apa yang terjadi? Tidak mungkin…

Dengan tegang ia melangkah. Keningnya mulai berkerut. Matanya mulai basah. Ketakutannya memuncak saat melihat orang-orang yang dikenalnya di ujung sana. Suho, Chanyeol, Kai, dan Sehun. Mereka berdiri sambil terisak, berusaha menenangkan seorang lelaki yang menangis tersedu, lelaki yang terduduk sambil memeluk erat tubuh seorang anak kecil. Rambut kecoklatan anak itu kaku dibekukan es. Tubuhnya pucat pasi. Pakaiannya berselimut salju. Matanya menutup, menyiratkan bahwa ia tertidur untuk selamanya.

Byun Baekyoung

Kaki Kyungsoo lemas, tidak mampu menopang berat tubuhnya. Ia jatuh terduduk. Tatapannya tidak terlepas dari pemandangan mengejutkan di depannya. Kini linangan air matanya kian deras. Dadanya seakan ditikam oleh jutaan es. Kyungsoo terisak. Ia memegang dadanya yang sesak.

“ADIKKU TIDAK MENINGGAL! TOLONG SELAMATKAN ADIKKU! BAEKYOUNG-AH!!!”

Mendengar raungan tersebut, Kyungsoo makin diliputi perasaan bersalah. Tangisannya kian keras melihat tubuh kaku anak itu dibawa masuk ambulans. Raungan kesedihan dari kakak anak itu tak terkontrol. Teman-temannya yang lain berusaha menahannya, tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan. Sosok mereka lalu menghilang tertutup pintu ambulans dan pergi menjauh, meninggalkan Kyungsoo di sana.

Mianhae… Mianhae Baekyoung-ah

This year…

Tepat di samping sebuah toko gingerbread, Kyungsoo berlutut. Pandangannya kosong untuk beberapa waktu yang lama sampai akhirnya ia dengan rela meletakkan bunga di aspal. Sudah setahun berlalu…

Pikiran Kyungsoo dibuyarkan oleh gumpalan kecil putih dingin nan lembut berjatuhan. Oh, the first snow! Ia dan seluruh manusia di sekitarnya serentak menengadah sambil tersenyum. Persis seperti tahun lalu. Apa ini bentuk sapaan darinya?

Oppa datang menemuimu.”

Kyungsoo tersenyum lembut menatap bunga itu. Kenangan lama kembali berputar. Saat ketika mereka masih saling tertawa di bawah hujan salju, membuat Kyungsoo berkaca-kaca. Seandainya ia tidak dihadang oleh preman jalanan, seandainya semua berjalan sesuai rencana, the warmest gift darinya pasti akan tersampaikan, natal tahun lalu maupun sekarang, masih bisa mereka lalui bersama.

Sepasang kaki yang berdiri di depan Kyungsoo membuyarkan lamunannya. Kyungsoo menghela napas berat begitu menengadah. Orang itu mengulurkan tangannya kepada Kyungsoo, menyuruhnya untuk berdiri. Sudah lama sekali ia tidak pernah bertemu dengannya. Suasana kian kaku sampai akhirnya orang itu angkat bicara duluan.

“Kau datang juga?”

Kini giliran Baekhyun yang berlutut, meletakkan sebuah gingerbread di samping bunga bermahkota pink milik Kyungsoo. Baekhyun terdiam sejenak dan tersenyum samar, mengingat kembali memori bersama adiknya.

Jeongmal mianhae…” ucap Kyungsoo dengan nada bergetar menahan tangis.

Gwaenchana,” jawab Baekhyun tulus.

Tahun lalu saat Kyungsoo menyerahkan diri, polisi menyatakan bahwa mereka tidak bisa menahan Kyungsoo untuk itu walaupun ia memaksa. Anak itu dan dirinya berniat saling bertemu, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Kyungsoo punya alibi yang kuat dan tidak ada di tempat kejadian saat gadis kecil itu meninggal. Terlalu banyak saksi, yaitu para preman yang memukulinya, orang asing yang menemukannya, serta dokter klinik yang merawatnya.

CCTV taman kota tidak menangkap dimana keberadaan anak itu. Namun, semuanya terekam jelas di CCTV toko gingerbread. Video itu memperlihatkan saat Baekhyun tengah mencari adiknya sambil menangis di tempat tersebut. Tetapi, Baekyoung malah bersembunyi rapat di balik semak. Diduga kuat bahwa ia tidak mau pulang bersama kakaknya sebelum bertemu Kyungsoo.

Akan tetapi, berdasarkan kejadian itu, polisi bahkan menduga bahwa tersangka utama adalah Baekhyun. Mereka beranggapan bahwa sang adik sengaja menghindar dari kakaknya karena suatu niat jahat. Namun, Baekhyun berhasil membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah. Video-video yang tidak sengaja terekam sebelumnya selalu menunjukkan keakraban dua saudara itu dimana sang adik selalu menunggu kakaknya usai bekerja di depan toko. Baekhyun selalu memeluknya erat dan mencium sebelah pipinya serta dibalas sayang oleh adiknya.

“Ini kado yang seharusnya kuberikan untuk adikmu tahun lalu,” kata Kyungsoo pelan.

Baekhyun terpaku melihat isinya. Baju hangat, syal, dan sarung tangan. Ia tersenyum kepada Kyungsoo sambil menangis.

“Ini untukmu. Baekyoung membawanya saat ingin bertemu denganmu,” kata Baekhyun sambil menyodorkan sesuatu.

Perasaan Kyungsoo kembali berdebar. Ia dengan tidak percaya mengambil benda tersebut. Kartu ucapan Natal dengan ornamen Santa di sampulnya. Begitu ia membuka apa yang tertulis di dalamnya, sebulir air jatuh dari pelupuk mata Kyungsoo. Tenggorokannya sakit karena menahan isak tangis. Ia tersenyum tulus membacanya. Baekyoung dan jiwanya sudah tenang di alam sana.

Salju pertama saat Baekyoung dan oppa bertemu. Hanya kartu ucapan ini yang bisa aku berikan sebagai hadiah. Happy Christmas Kyungsoo oppa. Saranghaeyo… neoui sarang, Baekyoung ga!

Advertisements
Categories: Baekhyun, Chanyeol, D.O, Kai, Sehun, Suho | Tags: , , , , , , , , , , , | 29 Comments

Post navigation

29 thoughts on “The First Snow

  1. sedihhh…
    tiba-tiba aku rindu Ibu ayah yang bisa penuhin apa yang aku mau :”

    • Terima kasih udah mampir baca
      Maaf banget kalau fanfic-ku justru bikin kamu ingat hal sedih
      Tapi aku harap semoga kamu suka ceritanya and back to smile again 😉
      Fighting!

  2. ivanacesarima

    Oke..

    Dirimu bertanggung jawab buat air mataku yang tumpahhh..

    Sumpah, udah kangenn bgt sma ini wp dn hal prtma yg ku dpt adlah ini story,

    gak tau mau blg apa,
    apalagi baca ini smbil dgr lgu exo MiD orchestra,
    huaaa, satu sisi senang krna feelnya dpat, tpi ttap aja crita ini buat aku mewek,
    🙂 🙂
    Beautiful story..

    • Welcome baaacckkk
      Iya aku kangen nulis lagi hohohoho
      Maaf udah lama baru bisa nulis
      Kangen readers juga :’)
      Terima kasih udah baca & komentar /tebar tisu/
      Aku senang bgt kamu menikmati ceritanya
      Thanks for your compliment ^^

  3. Selalu tidak mengecewakan. Keep writing kakak lulu :3

  4. Nice story :’) jarang ada nih story ttg exo sama anak kecil, bagus bgt suka deh 🙂

    • Lin thankyu udah baca :’)
      Iya dari dulu udah pengen bgt buat fanfic yang OC-nya anak kecil terus genre angst
      Baru sekarang kesampaian hehehee

  5. poororo

    kenapa harus sad ending kak u,u

  6. Hyora Kim

    sweet.. n_n

  7. Amarilies

    Sedih banget T^T bacanya sambil muterin album Miracle of December lagi jadi makin sediiihhhh kakak author daebak deh! T^T)b

    • Yellowww Amarilies terima kasih udah baca
      Gomawoyo buat pujiannya ;;; semoga kamu suka ^^
      Ini juga nulisnya pas kena efek angst lagu Miracles in December
      Inspiratif banget deh lagu & MV-nya

  8. Sumpah kak,feelnya dapet banget. Hampir nangis aku pas baca ini T^T

    Adiknya Baekki udah gak ada…. Trus aku juga ngebayangin gimana susahnya mereka yang hanya mencari uang di pinggiran jalan sementara anak seusia mereka malah gak nanggung beban hidup sesusah mereka 

    Terus berkarya kak~~ GANBA!!! 😀

    • Terima kasih udah mampir & baca 🙂
      Semoga kamu suka fic-nya dan berkesan
      Iya Baekyoung udah gak ada, namanya kayak maksa gitu ya hehe
      Udah lama mau buat fic tentang anak kecil
      Pengennya sih tadi mau buat kakaknya Baekhyun, Baekbeom, jadi adiknya Baekhyun
      Tapi gak jd krn aku pengennya anak perempuan
      LOL

      • Iya kak 😀 Ini berkesan banget buat aku 🙂 Hampir nangis malah pas bacanya kak (mian kalo kedengarannya aku kayak orang alay(?))

        Gak koq kak. Aku malah nikmatin bacanya,namanya gak kedengaran maksa (itu pendapat aku)

        Aku juga sesekali pengen buat cerita semacam ini tapi gak pernah bisa,udah telanjur terbiasa bikin exoshidae(utamanya yang sad) -____-#emangdasarnyalugakbakatkali

      • Makasih banget :’)
        Hehehe nggak kok
        Aku justru senang kalo readers suka <3<3<3

      • Sama sama kak 😀

  9. vinni song

    ternyata adiknya baekhyun. hemmm. . . ff ini kok kretek sih T.T
    Sedih bangettt

  10. Amanda

    Aku terharu authornim, really really nice fanfic, makasih authornim :’)

  11. Aaaaaaa, Kak Lulu comeback bawa FF Sad.
    dan tetap berhasil bikin aku nangis.
    Good job Eonnie~

    • Omo Devi welcome back ^^
      Terima kasih udah mampir kembali dan baca fanfic
      Iya ya kalo dipikir-pikir jarang buat genre angst
      Dari dulu doyannya tulis komedi terus

  12. yeollshin

    Aku baru baca ini.. Baru dateng kesini lagi…
    Ya ampun aku nangis beneran T.T
    nyesek bngt… Ini sedihnya kebangetan T.T
    feel nya itu dpt bngt…. Aku sampe gak tau harus ngmong apa ini… Daebak jinjja daebak :”) <3<3

    • Hellow yeollshin welcome back
      Terima kasih udah mampir lagi dan baca fanfic
      Senang kamu suka fanfic-nya happy reading ya
      /kasi tisu/ ^^

  13. alohaaa Kak Lulu ~
    udah lama banget gak mampir kesini.. dulu terakhir mampir pas jamannya Kak Lulu bikin game yang tebak-tebakan nama member EXO(?) gitu.. hihihi

    kak, aku berterimakasih sama yeollshin yang udah komen diatas..
    dia temenku juga, dan untungnya dia ngasih kabar ke aku kalo kakak update fic baruuu
    tapi mian aku bacanya telat kak, this is February… hohoho

    jinjja.. perannya Kyungsoo cocok banget disini :3
    mukanya emang tipe muka penyayang anak kecil..
    sebenernya udah mulai menduga kalo anak itu adeknya Baekhyun, ternyata bener ;____;
    ah.. ini angst tapi bukan angst romance… :3

    aku sampe merinding kak, bacanya..
    sedih banget 😦

    keep writing ya kak, buat nulis sad-nya… hohoho *-*)/

    NB : request boleh gak, kak? muehehehe
    aku kepengen dibikinin Game berupa scene tebak-tebakan per member kayak dulu lagi 😀
    makasih kaaaak *-*)d

    • Wah welcome back~
      Thanks banget juga buat temanmu yang udah sebar info dan buat visitor kembali berkunjung ^O^
      Gak apa-apa kok biar Februari baca winter story heheheee
      Iya bukan angst romance mianhaeyo ntar Kyungsoo dikira pedo xD
      Udah lama aku pengen buat fanfic pake cast anak kecil
      Baru bisa buat sekarang ^^
      Terima kasih udah baca dan komentar
      Semoga suka ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: