THE LOYAL GUARDIANS: Some Hurtful Pieces (B)

The Loyal Guardians_melurmutia2

THE LOYAL GUARDIANS: Some Hurtful Pieces (B)

Author : melurmutia

The Casts : EXO member

Genre : Family, drama

Length : Series

Rating : PG-13

Disclaimer : Terinspirasi dari Kuroshitsuji. Ide cerita tetap murni dari author.

Dunia seakan menyerang, tidak ada tempat lagi bagi kami

Tidak ada yang menginginkan kami, apa lebih baik mati saja?

Kedua kelopak mata yang tertutup selama berhari-berhari akhirnya terbuka perlahan. Cahaya lampu yang langsung masuk ke mata membuatnya sedikit mengeryit. Pandangan kabur kini kian jelas. Nampak seorang pria di ujung ruangan sedang sibuk oleh sesuatu, tidak menyadari bahwa ia telah siuman.

“Ta… Tao…”

Orang yang dipanggil namanya langsung berpaling dan berjalan menuju sisi tempat tidur.

“Luhan, kau sudah sadar!”

Naega.. Wae…

“Gangster gelap kembali beraksi. Kau hampir mati. Kalau saja pemilik dompet itu tidak menyetujui melakukan operasi, kau sudah mati saat ini.”

Luhan sama sekali tidak mencermati kata-kata Tao. Ia kembali menerawang, memutar kejadian lalu. Sampai dimana waktu itu? Seingatnya ia menawarkan koran kepada seorang pria tampan berjas. Saat itu seseorang mencopet dompetnya dan ahh Luhan mengingatnya. Pria gangster itu. Luhan menerima tendangan dan pukulan keras darinya. Luhan meletakkan tangannya di dada, merasakan tulang dalamnya seakan remuk. Ia mengerang pelan, menahan sakit. Luhan kembali menutup mata dengan kening berkerut. Saat orang itu menendangnya habis-habisan, Luhan justru membiarkannya. Lebih baik mati. Setelah mati, ia mungkin tidak perlu memikirkan hidupnya yang sungguh menyedihkan. Wae…

Mata Luhan agak sedikit basah. Semakin ia menahan tangis, semakin sakit pula dadanya. Ia telah diselamatkan. Kenapa pria tampan berjas itu justru membawanya ke sini dan tidak membiarkannya mengakhiri hidup? Ia sudah muak, frustrasi, dan tidak sanggup lagi untuk tetap berada di dunia. Kalau ia mati, ia tidak perlu lagi repot-repot memikirkan bagaimana mencari uang, membayar kontrakan, membayar utang yang menumpuk.

“Kau istirahat saja! Jangan pikirkan hal itu lagi. Semua akan baik-baik saja,” hibur Tao.

“Mana… Baekhyun dan Chan… yeol?”

“Mereka sudah berjaga kemarin. Sekarang giliranku. Sudahlah! Jangan bicara lagi.”

***Some Hurtful Pieces***

Siang itu Baekhyun menyusuri lingkungan kumuh yang gersang dengan langkah berat. Beban kiloan koran bekas yang dijinjingnya sudah tidak terasa berat lagi. Ia memutar kepala, memerhatikan lingkungan sekelilingnya, meresapinya hingga kedalam-dalamnya. Kotor, sampah menggunung, angin debu bertiup, dan rumah-rumah itu, reyot, tidak layak huni. Lingkungan tersebut mencerminkan orang-orang di dalamnya. Baekhyun kini termenung melihat mereka yang lalu lalang. Lusuh, compang-camping, seperti orang bodoh. Ya, memang bodoh, termasuk dirinya. Selama ini, sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya akan hal-hal kecil itu. Kini, ia masih berdiri di tempatnya, memikirkan betapa hidup ini kejam. Sekeras apapun usahanya, tidak akan mampu mengubah nasibnya. Setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Ia menengadah menatap langit. Sungguh hidup ini tidak adil. Ia mengutuk dalam hati.

Baekhyun membuka kenop pintu lapuknya yang tidak terkunci. Kenapa harus dikunci? Memangnya siapa yang mau datang mencuri di sini? Setelah Baekhyun meletakkan koran-koran itu di sudut ruangan, ia membelalak dan jatuh terduduk. Kumpulan bodyguard tinggi kekar dan seorang pria gemuk pendek berkacamata hitam berdiri di depannya. Haruskah penagih utang itu datang di saat seperti ini?

“Berapa banyak yang kau dapatkan hari ini?” tanya sang bos.

Jeo.. Jeosonghamnida,” jawab Baekhyun meminta maaf, lemas, gemetaran, tidak berani menatap orang itu. “Tolong beri kami sedikit waktu lagi, jebal…”

“Cih!”

Pria gemuk pendek itu tersenyum kesal. Tiba-tiba ia kalap lalu berhambur ke seluruh sudut ruangan kecil itu, memporak-porandakan isi rumah. Baekhyun tercengang, terpaku, geram, tatapannya seakan ingin membunuh. Bukan berarti pria gemuk itu bisa bertindak semaunya terhadap dirinya. Kedua tangan Baekhyun terkepal keras hingga urat nadinya hampir putus. Tanpa pikir panjang, Baekhyun segera berlari ke arah pria gemuk itu dan mendorong tubuhnya. Setelah pria itu tersungkur, Baekhyun mencengkeram kerah baju orang itu dan melayangkan tinju sekeras mungkin ke wajahnya sambil berteriak frustrasi. Tidak tinggal diam, para bodyguard langsung menendang wajah Baekhyun hingga ia berhenti memukul wajah sang bos. Saat Baekhyun lengah, alhasil ia dikeroyok habis-habisan dan tidak sanggup melawan.

Perkelahian itu sempat terhenti ketika Chanyeol nampak di ambang pintu hendak menyapa Baekhyun. Senyum di bibirnya memudar melihat keadaan temannya yang terkapar di lantai. Chanyeol merasakan darahnya berdesir keras.

“Baekhyun-ah…”

Tidak habis pikir, Chanyeol seakan ingin agar orang-orang di depannya mati, orang-orang yang membuat Baekhyun babak belur. Ia ikut menghajar para bodyguard itu dan sebisa mungkin menghindari pukulan dan tendangan yang diarahkan kepadanya. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Chanyeol merasakan otaknya berhenti bekerja saat sebuah tongkat menghantam kepalanya. Chanyeol ikut ambruk tak sadarkan diri ke lantai di sisi Baekhyun. Darah segar mengalir dari kepalanya. Dalam diam karena tidak berdaya, Baekhyun hanya mampu menangis melihat Chanyeol yang terluka. Ia berusaha menggapainya, namun sia-sia. Hal seperti ini… sudah biasa. Tapi, kali ini, bukan lagi amarah yang melingkupinya, melainkan rasa sakit hati. Mereka sudah cukup sabar akan semua ini. Sampai kapan… Eonjekajina…

Siluet dua orang pria terlihat dari depan pintu. Samar-samar Baekhyun berusaha memfokuskan pandangannya. Orang itu yang menyelamatkan Luhan. Ya… Tuan Suho dan Kris, guardiannya. Baekhyun sudah tidak memikirkan maksud kedatangan kedua orang itu. Yang ia harap adalah pertolongan darinya. Pertolongan untuk membawanya keluar dari semua ini. Air mata pria yang terkapar itu mengalir kian deras. Baekhyun kini melihat Kris melangkah lebih dekat dan membungkuk memberi hormat kepada para penagih utang. Mereka seperti mendiskusikan sesuatu yang tidak tertangkap jelas oleh Baekhyun karena kesadarannya menipis. Kris berhasil membawa mereka keluar ruangan. Kini hanya Suho yang berdiri menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak maksudnya. Baekhyun tidak peduli bila Suho sekarang mengasihaninya atau tidak. Ia seakan tidak berarti lagi. Yang jelas ia berusaha menyeret tubuhnya ke dekat Suho dan menyandarkan dahinya di atas punggung sepatu Suho sambil terisak. Baekhyun lalu memeluk kaki orang itu dengan erat dan tangisnya pecah tak tertahan.

“Tolong kami, Tuan… Salyojuseyo…”

Tiba-tiba Baekhyun merasakan kehangatan. Tangan Suho menepuk pelan pundak Baekhyun, seakan mengatakan bahwa semua itu akan berakhir, membuat Baekhyun kini merasa lebih aman.

***Some Hurtful Pieces***

Langit menggelap karena mendung. Namun, tanda-tanda akan hujan belum datang. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Air danau berdesir pelan oleh angin. Pepohonan yang tumbuh di gunung yang membatasi danau luas itu ikut melambai. Kyungsoo menghirup napas dalam, membiarkan paru-parunya terisi udara segar. Perasaannya berat. Di tepi danau, ia memeluk erat wadah hangat yang terbungkus kain putih di dadanya. Ia menutup mata.

Kyungsoo-ya! Jangan kecewakan aku atau kau akan kuhajar. Aku sudah bekerja keras membiayaimu. Jangan sampai kau tidak diterima kerja di sana araseo? Hehehe… kudengar hotel itu paling bagus untukmu nanti untuk bisa jadi asisten dapur untuk sementara waktu.

Ahh noona

Apanya yang ahh? Kau mau jadi chef atau tidak?

Kyungsoo membuka bungkusan kain putih serta tutup wadahnya. Hatinya semakin hancur. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan putih bersih mengambil pelan abu suci dari dalam wadah itu. Ia lalu mengarahkan tangannya ke depan dengan perlahan, membuka genggaman tangannya, dan membiarkan angin membawa abu itu terbang bersamanya. Kyungsoo merasakan kekosongan dan rasa bersalah yang menyelubunginya. Abu hangat itu seakan terbang mengitarinya untuk mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi bersama angin. Wajah senyum kakak yang paling dicintainya itu kembali terbayang. Pelupuk mata Kyungsoo tidak sanggup membendung air matanya dan akhirnya jatuh.

Mianhaeyo noona

Sampai saat ini pun ia tidak tahu-menahu seluk beluk yang menjebak dirinya. Jauh dalam hatinya, ia meneguhkan bahwa memang dirinya tidak bersalah. Ia yakin saat setelah ia dan chef hotel memasak makanan yang dipesan oleh tamu VVIP, ia mencicipi sendiri masakannya sebelum diantarkan ke tamu. Setelah tamu VVIP hotel itu ditemukan tergeletak di kamarnya karena keracunan, kini hidupnya berubah total, tanpa tahu kebenarannya. Ia dipecat dan haknya sebagai asisten dapur dicabut. Media sempat meliput dan menyorot wajahnya, membuat dirinya semakin tersudutkan. Pihak hotel juga telah menuntut dirinya yang sesungguhnya tidak bersalah karena penodaan citra perusahaan. Sebelum dirinya hendak mencapai puncak, ia telah jatuh ke dasar palung, tak bisa bangkit lagi.

Kyungsoo melirik ke belakang. Polisi masih mengawasinya ketat. Setelah ini, ia harus kembali masuk ke sel. Ia mencium abu terakhir dalam genggamannya sambil menutup mata, membuatnya kembali merenung.

Noona, aku tidak akan membuatmu kecewa. Sungguh!

Dengan ikhlas, ia melepas abu terakhir untuk ikut berbaur bersama angin. Kyungsoo tersenyum miris. Butuh waktu lama baginya untuk bisa berbalik, membiarkan dirinya kembali di borgol dan dibawa ke sel oleh polisi. Sebelum itu terjadi, Kyungsoo berhenti melangkah. Di depannya, berdiri sosok yang dikenalinya, sosok yang disegani, sosok yang penuh martabat. Sajang nim.

Pandangan mereka bertemu dan saling tatap untuk waktu yang lama. Tidak ada kata yang terlontar. Namun, sorot mata Kyungsoo menegaskan kepada Suho bahwa ia tidak bersalah. Kyungsoo tiba-tiba tertunduk dan jatuh berlutut. Ia terisak dalam. Suho melangkah pelan dan berdiri di depannya yang berlutut dalam kesedihannya. Kyungsoo semakin menunduk dalam. Hatinya terkoyak. Tenggorokannya sakit menahan tangis yang sekarang mulai pecah.

“Tuan, percayalah padaku, jebal…”

Entah hanya perasaannya atau bukan, samar-samar ia melihat Suho mengulurkan sebelah tangannya kepadanya, seakan hendak menyuruhnya berdiri. Kyungsoo terdiam sejenak dan perlahan menengadah. Dalam rintik gerimis, Suho mengembangkan senyum kepadanya, membuat Kyungsoo melupakan dukanya sejenak.

***Some Hurtful Pieces***

“Dasar pembunuh!”

Polisi berusaha menahan seorang ahjumma yang berusaha untuk menjambak rambut Xiumin. Ahjumma tersebut adalah keluarga dari korban pembunuhan. Seorang penagih utang tewas terbunuh di rumah Xiumin dan Chen dengan luka tusuk tepat di jantung. Tersangka pastinya tertuju kepada mereka berdua karena ketiganya saling memiliki hubungan. Xiumin dan Chen memiliki utang yang menumpuk kepada pria itu. Diduga motifnya karena tidak mampu membayar utang. Anehnya, tidak ditemukan sidik jari Xiumin atau Chen yang menempel pada gagang pisau. Keduanya mengaku menemukan mayat itu terbujur kaku saat tiba di rumah. Sayangnya, Xiumin dan Chen tidak mempunyai alibi kuat dan tak ada saksi. Sesaat setelah keduanya lari dari rumah karena kejadian itu, Xiumin memiliki niat untuk bunuh diri dengan cara menghempaskan tubuhnya ke arah mobil yang melaju, yaitu mobil Suho.

Tidak seperti Chen yang terus-menerus menangis melengking dengan mata merah penuh air mata, Xiumin hanya terdiam lesu, tidak mampu berkata-kata. Persidangan sempat ricuh, saat pengacara Lee, pengacara pribadi Suho memenangkan persidangan dan melepas Xiumin dan Chen yang tidak bersalah. Amukan keluarga korban tak terkendali. Polisi yang mengawal mereka berdua jadi kewalahan menerima tamparan.

Dalam lubuk hatinya, Xiumin dan Chen sebenarnya lebih memilih untuk masuk penjara. Ia tidak akan ditagih utang lagi, tidak perlu kelaparan lagi, tidak memikirkan apapun lagi. Memangnya apa yang akan dilakukannya di luar sana? Tidak ada yang peduli dengan mereka. Tidak ada yang merindukannya. Tidak ada orang yang menanti kehadirannya. Orang miskin seperti mereka, lebih memilih untuk mendekap lebih lama di dalam sel. Kalau pun mereka menerima hukuman mati walaupun tidak bersalah, justru lebih bagus. Apa gunanya hidup lagi?

Pemikiran mereka mengenai hal tersebut seketika terhapus saat Suho berjalan ke depan mereka, menatap keduanya dengan lembut, memberikan harapan yang mereka cari sejak dulu, membuat mereka sempat menganggap bahwa ini hanya mimpi.

“Bersediakah kalian bekerja untukku?”

***Some Hurtful Pieces***

Kai menyeka ujung bibirnya yang terluka oleh pukulan Tao saat hendak mencopet dompet Suho. Anehnya, di sinilah ia berdiri, di depan gerbang sebuah rumah mewah, megah, nan indah, bersama delapan orang lainnya. Di antaranya ada Luhan dan Tao, sisanya ia tidak kenal. Meski dongkol karena Tao terus-menerus melemparkan tatapan tajam kepadanya, mau tidak mau inilah yang menjadi keputusannya. Tidak ada cara lain untuk menjadi yang lebih baik selain di tempat tersebut. Suho sendiri yang menawarkan pekerjaan padanya. Tidak ada dendam sama sekali. Kai bahkan rela meninggalkan kelompok gelapnya, untuk membuat dirinya menjadi lebih berarti di mata orang. Selama ini ia kesepian, haus perhatian, tidak dianggap sehingga melakukan perbuatan jahat hanya agar orang-orang dapat menyadari kehadirannya. Tidak ada orang yang begitu mencintainya. Siapa yang menyangka bahwa ia akan mengambil keputusan gila ini, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Dengan begini, ia akan memulai kehidupan barunya yang tenteram.

Begitu pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, serentak mata mereka membesar dan dagu mereka seakan jatuh saking kagumnya. Tidak mampu berkedip. Sepanjang mata memandang hanya ada taman luas. Di sudut kiri mereka, terdapat ruang monitoring untuk security. CCTV ada di mana-mana. Mereka berjalan santai menyusuri jalan yang di tepinya ditumbuhi pepohonan, menambah sejuknya tempat tersebut. Mereka masih harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke rumah Suho yang cukup jauh jaraknya. Ini semua adalah milik tuannya. Kepala mereka masih celingukan, tidak melewatkan satu pun hal menakjubkan tersebut. Kicauan burung kecil mengiringi langkah mereka.

Setelah berjalan beberapa meter, mereka melihat sebuah danau buatan kecil. Otomatis mereka berhenti melangkah. Tanah ini sungguh luas. Bagaimana bisa ada danau di halaman rumah? Di tepiannya ditumbuhi bunga bakung kuning dan merah. Mirip buruk yang selama ini menyusupi mereka seketika menguap penuh kekaguman.

“Wuooo…”

Mata mereka begitu dimanjakan oleh pemandangan yang sama sekali berbeda. Apa ini surga? Rumput terpotong rapi bak karpet. Alat penyiram rumput berputar, menyebarkan air ke setiap permukaan, membuat rumput tersebut tetap hijau. Begitu mereka berbelok kanan, hamparan lapangan hijau luas menambah kesan mewah. Ada sebuah pohon besar di tengahnya. Sebuah bangku taman putih dan beberapa gazebo di sudut makin membuat elegan rumah tersebut. Mereka melihat jogging track mini, sama seperti di lingkungan perumahan mewah ini. Saat mereka menoleh ke kiri, jajaran mobil mewah terparkir rapi, membuat mereka menelan ludah. Mereka kini tiba di depan rumah utama dan melihat Kris berdiri di tangga depan rumah yang luas dengan empat pilar putih tinggi menjulang ke langit-langit, membuat leher keseleo.

“Selamat datang di kediaman Kim. Aku, Kris, adalah kepala pelayan di sini. Semua barang kalian sudah masuk ke dalam paviliun. Ikuti aku!”

Semua guardian saling tatap dan masih agak canggung. Dengan polosnya mereka mengikuti Kris ke paviliun belakang melalui jalan di samping rumah utama. Di paviliun itulah, mereka akan tinggal. Paviliun tersebut bahkan lebih besar dari yang mereka bayangkan. Desain interiornya indah, fasilitasnya lengkap, bahkan mewah. Para guardian tidak meminta banyak. Mendapatkan kehidupan baru saja sudah cukup dan ini benar-benar sudah lebih dari cukup.

“Di paviliun ini hanya ada tiga kamar. Kamar di samping ini adalah kamar Baekhyun, Chanyeol, Chen, dan Xiumin. Yang di sana adalah kamar Kai, Kyungsoo, dan Tao. Luhan dan Lay, kita sekamar.”

Baekhyun, Chanyeol, Chen dan Xiumin tersenyum. Tidak demikian dengan Kai, Kyungsoo, dan Tao. Mereka bertiga tidak saling mengenal satu sama lain. Kai dan Tao bahkan terlibat bentrok akibat tindak pencopetan Suho beberapa waktu lalu. Hubungan mereka agak tidak baik. Tao melirik Kai dengan kesal dan dibalas cuek oleh Kai. Kyungsoo sendiri memang tidak mengenal siapa-siapa di antara mereka. Berbeda dengan Luhan. Ia memang tipe yang mudah beradaptasi dengan siapapun jadi tidak masalah mau sekamar dengan siapa. Bila ia ditempatkan satu kamar dengan Kai pun, tidak apa-apa.

“Setelah menyapa Tuan, kalian akan mengikuti guardian training. Kalian akan ditempatkan di posisi servant, housekeeper, household cook, gardener, driver, dan security. Hal itu tergantung dari hasil training nanti. Sekarang ganti baju kalian dengan seragam yang sudah disiapkan di kamar masing-masing!”

NE!!!” seru para guardian begitu semangat.

Mereka kini berdiri di depan cermin dengan wajah baru. Rapi, bersih, wangi, dan lumayan tampan dengan rompi hitam yang mereka kenakan. Mereka mengeratkan dasi dan menata rambut. Ini adalah awal kehidupan baru. Wajah mereka berseri-seri, senyuman terus mengembang.

Seusai berkemas rapi, mereka mengikuti Kris untuk menghadap sang master Suho. Begitu mereka memasuki pintu depan rumah utama, betapa kagumnya mereka dengan kemewahan rumah itu. Lantai marmer berkilauan, lampu gantung besar, pajangan-pajangan mahal, sebuah grand piano putih elegan di sudut ruangan, tangga berputar menuju lantai dua dengan balutan red carpet.

“Kita naik ke lantai dua. Tuan ingin ditemui di ruang kerjanya.”

Para guardian kembali tersenyum. Dengan tegas, bangga, dan penuh semangat mereka menapaki tangga menuju ruang kerja Suho. Kris memperbaiki letak mic di telinganya dan terdengar Suho sudah mempersilahkannya masuk. Begitu Kris membuka kedua daun pintu, para guardian masuk dengan salah tingkah. Ruang kerja itu didominasi warna coklat. Beberapa rak buku tinggi menjulang. Karpet empuk menyelimuti lantai. Wangi ocean memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi rileks. Suho nampak duduk sebuah kursi hitam besar di balik meja kerjanya menghadap ke jendela besar yang terang disinari cahaya matahari, membelakangi mereka. Begitu Suho memutar kursinya dan menampakkan diri, guardian lain yang sejak tadi berjajar rapi serentak membungkuk memberi hormat.

Annyeonghaseyo master nim! Kami sudah tiba!”

Suho bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan para guardian sambil tersenyum ramah. Suho memerhatikan tiap guardian, memastikan mereka baik-baik saja. Guncangan yang mereka alami bukanlah hal kecil. Mata Suho tertuju ke Lay. Guardian itu sungguh tidak tahan terhadap perlakuan atasannya di warung mie China kecil tempatnya bekerja dulu hingga ia mau menerima tawaran Suho.

Ia ingat guardian itu pernah menang undian untuk menginap di hotelnya selama semalam sebagai tamu VVIP lalu keracunan setelah memakan makanan yang dipesannya di dalam kamar. Terbukti yang melakukan tindakan tersebut adalah seorang asisten dapur lain. Ia merasa iri pada Kyungsoo karena sudah bertahun-tahun menjadi asisten dapur namun belum diperbolehkan memasak makanan untuk tamu, tidak seperti Kyungsoo yang seorang asisten dapur junior.

“Terima kasih kau mau mengubah keputusanmu untuk bisa bekerja denganku, Lay ssi!” tambah Suho sambil melipat tangannya di dada.

Lay tersentak pelan dan tersenyum kikuk. Ia membungkuk. “Sungguh suatu kehormatan bagiku, Tuan!”

“Untuk seluruh guardian, aku ucapkan selamat datang di rumahku yang sederhana ini. Kuharap kita bisa saling bekerja sama. Semoga kalian menikmati kehidupan baru kalian di tempat ini,” sapa Suho ramah.

NE, MASTER NIM! MOHON BIMBINGANNYA!”

Author’s Note: Untuk visualisasi rumah Suho aku pakai rumah di MAIIM VISION VILLAGE. Di sana cantik banget pemandangannya. Bisa buka official webnya maiimvisionvillage.co.kr buat lihat-lihat 🙂

Advertisements
Categories: Baekhyun, Chanyeol, Chen, D.O, Kai, Kris, Lay, Luhan, Sehun, Suho, Tao, Xiumin | Tags: , , | 21 Comments

Post navigation

21 thoughts on “THE LOYAL GUARDIANS: Some Hurtful Pieces (B)

  1. ADENYA MARIO MAURER

    authorrrr, mana kisah krisnya? gue masih kepohhhh asdfghjkl

  2. tyanabaekki

    baik bnget sih master suho.. ! Miris bnget sma scene baekhyun wkt meluk kaki suho. . Wkwk g bisa trbayangkan XD
    wah skarang yg masalalunya blum trungkap adalh kris dan sehun pnasaran sama masa kelam mereka XD. Pnasaran juga sama master suho, ,
    well ditnggu next chapnya thor keep writing and jia you!

    • Jeongmal gomawoyo ^^
      Baekhyun di sini jadi scene favoritku hehe
      Udah lama bgt mau buat adegan ginian akhirnya kesampaian di seri 4 (B) ini
      Kalau Suho, Kris, Sehun, mereka bertiga ada kok masa lalunya
      Ikuti terus ya #eaaa .__.
      Makasih banyak buat komentarnya ❤

  3. 48hoursmore

    wehaha.. Masi penasaran sama kris, suho sama sehun,
    lanjut kak!

  4. KYAAAAAAAAAAAAAAAA~~!! Akhirnya ada juga lanjutannya!!
    Ah ya, aku penasaran ama Kris dan Sehun…
    Lanjutan ditunggu!
    THUMBS UP FOR YOU EONNIE~! NEOMU DAEBAK!!

    • Annyeonghaseyo and welcome back \:D/
      Gomawo udah mampir lagi dan baca
      Iya akhirnya setelah sekian lama… hehehe
      Untuk seri keempat ini aku bagi jadi part A dan B karena kepanjangan .__.
      Kris, Suho, sama Sehun nanti ada kok
      Semoga kamu suka seri keempat ini ^^

  5. Hyora Kim

    masa lalu suho, kris dan sehun, juseyoo..
    Keep writing!!
    Fighting!!

  6. Lee Hana

    thorrrr Krisnya mna critanya kok blum ada sih, pnasaran m khidupan dia sblumnya. atau authornya mw nyritain di next chapter. Klau bgitu next chapter yg cpet ye ,smangat author

  7. Akhhhhh.. Udah nunggu lama bgt, akhir’y di update jga. Pnasaran bgt gmana ksah Kris! Ni Kris dlu’y kyak gmana, mafia kah? #asal trnyta mereka bnar2 loyal sma suho d tnggu next chapter’y

  8. Ddangkoplak

    Rumahku yg sederhana ini?? Sederhana dengkulmu baaaaaaaang… -__-” yaaah, thor kok TBC sii 😦 but tetep oke thor! Ditunggu kelanjutannya…

  9. salsa

    Waaah daebak ❤ rumah sederhana??-.- rumah kyk gt suho masih bilang rumah sederhana -,-

  10. akhirnya muncul jugaaaa~~~
    good job kak,lanjutttt

  11. yeollshin

    Whoaaa disini bagian yg bener2 mengharukan T.T
    kisah mereka menyedihkan amat ckck
    tinggal nunggu kisah Kris sma Sehun nih.. Gak sabar sama seluk beluk Kris.. Apakah dia mantan gelandangan juga? Wkwk XD
    kalo sehun kayanya bisa jadi ya, dia prtama datang aja bajunya compang camping -_-
    Aku tunggu part selanjutnya…. Smoga secepatnya ya.. Fighting!! 😀

    • Yang selanjutnya ditunggu aja ya, masih di draft
      Aku masih mau tambahin dikit soalnya agak kurang greget
      Kalau yang ini aku bakal lanjut kok
      Terima kasih udah baca ^_______^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: