THE LOYAL GUARDIANS : Some Hurtful Pieces (A)

The Loyal Guardians_melurmutia2

THE LOYAL GUARDIANS : Some Hurtful Pieces (A)

Author : melurmutia

The Casts : EXO member

Genre : Family, friendship

Rating : PG-13

Length : Series

Disclaimer : Terinspirasi dari Kuroshitsuji. Ide cerita tetap murni dari author.

Note : Chapter kali ini tentang perekrutan 9 guardian. Semoga nggak bingung ya 🙂

Di paviliun belakang, Luhan mengambil perban dan obat luka bakar dari kotak P3K dengan tergesa-gesa. Ia kemudian berlari-lari kecil menuju ruang tengah paviliun, menghampiri Sehun yang sedang duduk meringis pelan di sofa sambil memegang lengan kanannya yang melepuh. Hari ini ia menumpahkan teh panas dalam poci kecil sebelum disajikan untuk Suho yang akan berangkat ke Amerika pagi itu. Alhasil kulit lengan kanannya mengelupas. Luhan ikut meringis, mengerutkan dahi, tidak sanggup melihatnya.

“Arghh…”

Luhan baru akan membersihkan luka Sehun dan tiba-tiba ia tersentak pelan mendengar jeritan Sehun. Sehun seakan menahan perih, lengannya menegang. Luhan berusaha sebisa mungkin agar guardian baru itu tidak terlalu merasakan sakit. Dengan perlahan dan telaten ia mengobati luka tersebut sambil mengoleskan krim.

“Lukamu agak parah. Aku tidak yakin bisa menanganinya. Kau yakin tidak mau ke rumah sakit?” tanya Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari lengan Sehun.

Ne,” jawab Sehun datar.

Luhan mendongakkan kepala sejenak ke arah Sehun sambil tersenyum lebar. Guardian baru itu masih saja canggung, tidak terlalu banyak basa-basi, belum terlalu akrab dengan siapa pun. Sehun masih membatasi diri. Mungkin karena ia memang pemalu. Guardian lain juga tidak terlalu sering menyapa Sehun. Entah karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, segan, atau tidak peduli sama sekali. Kalau Luhan tidak mengajaknya bicara atau bercanda duluan, dapat dipastikan Sehun tidak akan mengeluarkan suara seharian penuh.

Ya! Sehun-ah! Tidak ada salahnya kalau kau sering ikut kami untuk berbaur. Jangan terlalu kaku. Kami semua di sini adalah keluarga barumu. Jangan terlalu sering menyendiri, araseo?” hibur Luhan sambil menepuk pelan bahu Sehun.

Sehun mengedipkan mata dengan polos dan menunduk. “Aku… harus cerita apa?”

“Apa saja! Misalnya… umm… kenapa kau bisa direkrut Tuan menjadi guardian di sini? Atau tentang hidupmu sebelumnya?”

Sehun masih memasang wajah datar. Ia kian menunduk. Luhan sempat berhenti mengoleskan krim di luka Sehun. Jangan-jangan guardian itu tersinggung? Apa ia baru saja mengatakan hal yang tidak sepantasnya?

“Ahh… tidak apa kalau kau tidak ingin menceritakannya. Mungkin butuh waktu bagimu,” sela Luhan tidak enak hati.

“Bagaimana dengan guardian lain? Bagaimana mereka bisa direkrut oleh Tuan?” Sehun malah balik bertanya. “Kalau Kai aku tahu sedikit saat kekacauan itu.” (baca The Loyal Guardians: The Chaos in The House).

Luhan tertegun. Ia menatap sehun sejenak dan mengalihkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tengah paviliun. Ia seakan memastikan bahwa di paviliun saat itu hanya ada mereka berdua dan guardian lain masih berada di mansion utama untuk bekerja. Luhan tersenyum penuh semangat, sangat tidak sabar untuk membeberkan rahasia yang terpendam.

“Setelah aku cerita, kau harus janji untuk tidak menutup diri dengan orang lain! Bagaimana?” pinta Luhan.

Senyuman tersungging di bibir Sehun dan ia mengangguk pelan. Luhan tertawa dan membereskan obat-obatan di meja beserta sisa perban. Ia lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir dan tersenyum jenaka ke arah Sehun.

“Satu lagi! Jangan bilang ke guardian lain kalau aku yang cerita, okay?”

 

*Flashback*

Suho bisa merasakan keringatnya bercucuran melewati lehernya. Ia mengerutkan kening kepanasan, mengipas-ngipas dirinya dengan telapak tangan, meskipun hanya hawa panas itu kembali yang terhembus. Siang itu sungguh terik. Musim panas ini ia harus tetap bekerja dan di sinilah ia sekarang. Berdiri di sebuah lingkungan kumuh. Ia bisa melihat semua limbah resort-nya dialihkan ke area itu. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, Suho sedang memikirkan bagaimana mengatasi agar limbah resort-nya tidak terlalu mencemari lingkungan itu. Tentu saja hal tersebut sudah bukan merupakan tugas utamanya sebagai pemilik resort. Suho memiliki banyak officer di berbagai divisi. Namun, Suho adalah tipe sajang-nim yang suka seenaknya sendiri dan sering ikut terjun ke lapangan untuk memantau secara langsung. Ia sudah mengitari dan menandai beberapa tempat yang dianggapnya perlu ditindak. Ia mengitari sekeliling lingkungan tanpa ditemani para officer kantornya.

Seoul News, Tuan?”

Suho membalikkan badan ke sumber suara. Pria itu hampir sebaya dengannya, mungkin agak sedikit lebih muda beberapa tahun karena wajahnya sungguh menunjukkan paras baby face. Ia menggumam dalam hati. Pakaiannya compang-camping, kumal, jelas menunjukkan bahwa ia tinggal di lingkungan kumuh tersebut. Orang itu menawarkan koran sambil tersenyum. Suho melirik tumpukan koran baru di tangan kiri orang itu dengan headline persis yang ia baca tadi pagi di rumahnya.

PLAK!!!

Secepat kilat Suho dan penjual koran itu berpaling karena terkejut. Kedua mata Suho membesar. Bunyi apa itu? Kedengarannya seperti bunyi tamparan. Suho kini menyipitkan mata. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang pria menerima sebuah tamparan keras dari ahjumma bertubuh gemuk.

“Baekhyun-ah! Kau pikir kenapa aku harus memberimu bayaran untuk koran bekas yang tidak sampai 5 kg ini? Berani-beraninya kau meminta lebih!”

Suho terdiam di tempatnya. Tiba-tiba bibirnya membentuk senyuman kecil. Ia justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, ingin menyaksikan adegan itu lebih lama lagi. Bibi itu lalu mengambil beberapa koran lalu dilemparkannya dengan sadis ke orang bernama Baekhyun tadi. Baekhyun hanya menunduk. Suho melihat ada seorang pria lagi di samping Baekhyun, sejak tadi berusaha membelanya mati-matian.

Ahjumma, jebal! Kami sudah berkeliling stasiun dan taman kota hanya untuk ini dan… sudah dua hari ini kami belum ma…”

“Chanyeol-ah, hentikan!” sela Baekhyun lemah, matanya berkaca-kaca. “Kita memang harus kumpulkan lebih banyak lagi…”

Suho berdecak ringan dan merenungkan peristiwa itu dalam waktu lama. Ia tersadar penjual koran yang menawarkan Seoul News rupanya masih berdiri di sampingnya sejak tadi. Suho memang bukan tipe yang suka ikut campur. Namun, tidak mampu dibuat penasaran.

“Kau kenal dua orang itu?” tanya Suho tanpa melirik si penjual koran.

“Baekhyun dan Chanyeol. Kami tinggal di lingkungan yang sama. Memang sudah pekerjaan orang sini, sehari-harinya mengumpulkan koran untuk dijual ke ahjumma tadi. Kalau aku sendir menjual koran baru. Tuan… Ngg… Apa Tuan jadi membeli korannya?”

Suho terbelalak, lupa akan tujuan awalnya membeli koran yang justru sudah dibacanya tadi pagi. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Belum sempat ia membuka isinya, tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menyambar Suho begitu cepat. Tubuh Suho terhempas dan menyeret tanah gersang. Dalam hitungan detik, dompetnya telah dicopet oleh pria bertopi dan berjaket kulit hitam.

“Luhan, tangkap orang itu!”

Dalam posisi duduk sambil meringis, Suho melihat seorang pria berseru dan berlari dari arah belakang menghampiri Luhan, si penjual Seoul News. Luhan lalu berlari sekuat tenaga mengejar si pencopet. Suho perlahan bangkit. Bukannya panik, ia benar-benar takjub. Lihat bagaimana Luhan, si penjual koran berlari dan berhasil mendahului si pencopet. Luhan lalu mendorong tubuh pencopet hingga tersungkur dengan dagu menyeret permukaan tanah. Geram akan hal tersebut, sang pencopet tidak tanggung-tanggung memberi pukulan dan tendangan bertubi-tubi kepada Luhan, membuat si penjual koran itu babak belur. Chanyeol dan Baekhyun yang menyaksikan peristiwa tersebut terkejut dan ikut berlari lalu menyelamatkan Luhan.

Pria yang berseru ke arah Luhan tadi kemudian datang dengan tendangan berputar. Teknik memukulnya tidak main-main, membuat si pencopet seketika terkapar. Orang itu lalu mengamankan si pencopet. Luhan sepertinya mengalami perdarahan dalam yang cukup parah, dari mulutnya keluar banyak darah, mungkin juga patah tulang. Luhan mencengkeram dadanya kuat-kuat, mengerang kesakitan, bahkan terdengar oleh Suho yang berdiri cukup jauh dari mereka. Baekhyun dan Chanyeol merangkulnya panik, tidak tahu harus berbuat apa.

SAJANG-NIM!!!”

Suho menoleh ke belakang. Para officer kantor berlarian ke arahnya dengan napas terengah-engah. Nampak pula Kris di tengah-tengah mereka. Kris menghela napas melihat tuannya tidak terluka. Suho kembali menatap Luhan di kejauhan. Pandangan matanya begitu tajam. Sorot mata itu, Kris sudah bisa mencium rencana baru tuannya.

“Tuan, gwaenchanseumnikka? Anda kemana saja? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kris setelah membungkuk memberi hormat.

“Kris, bawa orang itu ke rumah sakit,” perintah Suho tanpa menatap Kris.

NNe! Algeseumnida!”

 

*At the hospital*

Sementara Kris mengurus administrasi Luhan, ia melirik Suho yang terduduk syok di kursi ruang tunggu. Sebelumnya, ia telah menyarankan Suho untuk tidak repot-repot ikut ke rumah sakit karena ia bisa membereskan masalah tersebut. Namun, bukan tuannya kalau tidak keras kepala. Kris menghela napas pendek. Setelah semua persoalan beres, ia menghampiri Suho sambil menyodorkan sesuatu dari dalam saku celananya.

“Ini dompet Tuan. Silahkan dicek apakah ada sesuatu yang hilang atau tidak,” kata Kris sopan.

Kris bisa melihat sekilas isi dompet Suho saat tuannya itu memeriksa di tiap poket dompetnya. Uang tunai, jajaran kartu kredit dan kartu identitas, tanpa foto terpajang di label transparan dompet.

“Tidak ada yang hilang. Oh ya! Kau tahu siapa nama orang yang bertarung tadi?” tanya Suho sambil memasukkan dompet, kali ini ke dalam saku jasnya. “Apa Luhan baik-baik saja?”

“Orang yang bertarung melawan pencopet tadi bernama Tao. Kalau Luhan, saat ini ia sedang ditangani di ICU. Tao, Baekhyun, dan Chanyeol ikut datang menemaninya,” jawab Kris.

“Bagaimana dengan pencopetnya?”

“Orang itu bernama Kai. Ia tergabung dalam kelompok gelap misterius yang sering beroperasi melakukan kejahatan di distrik ini. Bagaimana keputusan Tuan?”

“Tentu saja aku tidak akan membiarkannya lolos. Cepat hubungi pengacara Lee!” perintah Suho dengan dingin.

“Baik, Tuan!”

Kris melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu keluar dengan Suho berjalan di depannya. Mereka masih harus ke kantor polisi terkait tindak pencopetan tadi. Kris tiba-tiba harus menghentikan langkahnya saat Suho melihat seseorang yang dikenalnya di lorong ICU yang sama. Kris tahu bahwa orang itu adalah manager di hotel milik tuannya. Kris dan Suho berjalan mendekat, berharap orang itu menyadari kehadirannya dan benar saja.

Sajang-nim!” serunya terkejut sambil membungkuk. “Anda di rumah sakit ini juga? Apa Anda sedang kurang sehat?”

Anieyo! Aku tadi ada sedikit urusan. Bagaimana dengan Anda?” balas Suho tersenyum.

Sang manajer memasang raut wajah kebingungan. Ia agak sedikit ragu mengatakannya dan menggaruk bagian belakang lehernya. Kris dan Suho melihat ada seorang pria lagi di samping manajer. Dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya ia bekerja di dapur hotel. Orang itu meremas kedua tangannya ketakutan dan bergetar. Meski menunduk, Kris tahu kalau orang itu sedang mengeluarkan air mata. Kris makin kebingungan.

Sajang nim, sebenarnya kemarin kami sudah dapatkan peserta undian yang beruntung untuk menginap sehari di hotel. Orang itu bernama Lay, berprofesi sebagai juru masak di sebuah warung kecil. Saat ini Lay ssi masuk ruang ICU. Keadaannya gawat karena… Kyungsoo ssi, asisten dapur hotel yang berdiri di samping saya ini… memasukkan racun ke dalam masakan yang dipesan Lay ssi  untuk dibawa ke kamar. Hal ini bahkan sudah diketahui oleh dewan eksekutif dan tamu hotel.”

Kris bisa melihat kedua bola mata tuannya hampir melompat keluar. Lagi-lagi ia mendesah pelan. Lihat saja nanti! Suho pasti akan membebaninya dengan pekerjaan baru lagi. Kyungsoo kemudian terlonjak dan mendongak kaget, raut wajahnya frustrasi, memperlihatkan kedua mata besarnya kian memerah dan basah oleh air mata.

Sajang nim, saya bersumpah tidak melakukannya. Saya… benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Saya bahkan… tidak memiliki alasan apapun untuk melakukan perbuatan jahat itu. Sungguh… Saya bersumpah demi Tuhan…”

Kris memutar bola mata dengan malas mendengar isakan pembelaan diri Kyungsoo. Suho kini berjalan lurus tepat di hadapan orang itu dengan sorot mata tajam. Kyungsoo semakin melinangkan air mata dan menunduk dalam.

“Kris, manager Jung, kalian berdua cepat bereskan masalah ini!” seru Suho dengan nada menusuk kepada Kris dan manajer hotel sambil terus menatap Kyungsoo geram.

Ne, algeseumnida!” seru keduanya bersamaan.

*At the police station*

Kris menggaruk kepalanya dengan frustrasi. Ada-ada saja hari ini! Siapa yang menyangka bahwa dalam perjalanan ke kantor polisi, mereka menabrak seseorang. Bukan menabrak! Ini memang fakta. Kris merasa bahwa orang itu sengaja melemparkan dirinya ke depan mobil yang melaju seperti percobaan bunuh diri dan memang terbukti dari kamera pengawas jalan. Untung saja orang itu tidak terluka. Namun, sebagai orang yang bertanggung jawab, Suho harus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Kris semakin menghembuskan napas berat. Ini justru memberatkan tuannya.

“Tolong sebutkan nama Anda! Jadi, teman Anda ini memang ingin bunuh diri?” tanya polisi kepada orang yang diinterogasinya.

“Namaku Chen. Aku… tidak sempat menghentikan Xiumin hyung untuk melakukan hal gila itu. Kami…”

Chen tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena menahan isakan tangis. Xiumin, yang duduk di sampingnya dengan tubuh memar, hanya diam saja, menerawang. Ekspresi itu, seakan tidak hidup. Orang itu benar-benar ingin mati. Kris tersenyum frustrasi melihat kedua orang kumuh tersebut dan melototinya. Xiumin yang ingin bunuh diri itu sudah menambah masalah baru yang datang bertubi-tubi hari ini. Di samping itu, Suho menjawab secara detail tiap pertanyaan yang diajukan pihak kepolisian mengenai kejadian pencopetan tadi serta keterlibatan Kai, ketua kelompok gelap misterius yang menjadi buronan polisi. Pengacara Lee pun tiba dan mengurus semua persoalan hukum tersebut, termasuk percobaan bunuh diri Xiumin yang melibatkan Suho dan Kris. Untuk sementara, Chen, Xiumin, Kai dan Kyungsoo ditahan dalam satu sel sampai proses hukum menentukan nasib mereka. Polisi justru mempersilahkan Suho dan Kris untuk pulang. Suho mempercayakan semuanya pada pengacara Lee.

Di parkiran kepolisian, Kris membukakan pintu mobil untuk Suho. Tuannya itu membuang diri dengan lelah masuk ke dalam mobil. Kris melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata, jangan sampai kejadian sama akan terulang.

Jeongmal!” Suho menggerutu pada dirinya sendiri. “Buatkan aku teh ginseng sesampai di rumah!”

Ne! Tuan baik-baik saja?”

Suho tidak langsung menjawab. Dari refleksi kaca yang tergantung di depan, Kris melihat Suho tersenyum sinis sambil memandang keluar jendela di jok belakang. Senyum yang sangat dikenalinya. Kris malah lebih tidak berani lagi untuk melihat senyuman itu. Ia buru-buru berkonsentrasi akan apa yang ada di depannya. Ia sungguh tidak berani. Semenjak kejadian itu… Kejadian yang membuatnya benar-benar hampir gila.

“Kau ingat tentang rencanaku beberapa minggu lalu? Selama ini mungkin aku benar-benar merepotkanmu. Aku berpikir tentang… cara untuk meringankan pekerjaanmu,” ujar Suho menyandarkan sebelah lengan ke sisi jendela mobil.

“Apa… Apakah Tuan yakin tentang perekrutan ini? Asal usul mereka tidak jelas, bisa saja membahayakan keselamatan Tuan,” Kris memberanikan diri angkat bicara, setenang mungkin, berusaha agar ketakutannya tidak dapat terbaca oleh Suho.

“Tentu saja! Mereka akan berlutut dan tunduk kepadaku, melindungiku dengan segenap hati walaupun harus meregang nyawa. Benar kan, Kris?”

Kalimat terakhir yang dilontarkan Suho jutru mengusir rasa takut Kris. Ia tersenyum tulus. Memang inilah yang menjadi keputusan hidupnya untuk menjadi orang kepercayaan Suho dan memang tidak akan pernah ia sesali. Walaupun kejadian masa lalu itu tidak pernah terjadi, tidak akan mampu menggoyahkan loyalitasnya pada tuannya. Kris kini menambah kecepatan laju mobil.

Ne, sajang nim!”

*At pavilion*

Jinjjaeyo?” seru Sehun tidak percaya.

“Ya! Kau pikir aku mengarang-ngarang cerita?” balas Luhan sambil menaikkan dagu. “Itu sudah lama sekali. Aku bahkan sempat lupa kalau Kai pernah mematahkan tulang rusukku. Di antara kami semua, tidak ada dendam lagi, karena kami punya Tuan Suho. Tidak ada yang lebih berarti lagi selain Tuan. Kami benar-benar tidak ingin kembali ke masa lalu. Mimpi buruk itu sudah berakhir.”

Sehun tertegun menatap Luhan yang menerawang, mengulang kembali masa-masa tersulit dalam hidupnya. Luhan kini menyimpan kembali obat-obatan dan perban ke tempat semula, meninggalkan Sehun sendirian. Samar-samar terdengar suara gerombolan guardian yang semakin jelas. Di ambang pintu paviliun, mereka berjalan terhuyung dan melemparkan diri ke sofa. Ada beberapa yang langsung membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin. Paviliun yang tadinya sepi sekarang ribut dan agak berbau keringat.

“Tuan akan membawa oleh-oleh dari Amerika, wuoooo,” jerit Chen riang.

“Ahhh… punggungku rasanya mau patah! Aku tidak mau lagi mengangkat guci setinggi pilar mansion itu. Ahh tanganku… Ya, Sehun-ah! Cepat pijat aku!” keluh Baekhyun berlebihan.

“Apa yang kau lakukan di sini sejak tadi?” seru Chanyeol kepada Sehun.

“Hei, ada apa dengan tanganmu?” teriak Kai mengagetkan seluruh guardian dan tidak sengaja meremas lengan Sehun.

“ARRGGHH!!!”

Sehun mengerang perih, membuat guardian lain tertawa. Kai buru-buru melepaskan pegangannya dengan gaya cool. Ups, sorry!  Sehun kembali kikuk dan meniup-niup lengannya yang diperban. Guardian lain ikut mengerumuni Sehun, menanyakan apa yang ada di balik perban itu. Sehun dengan singkatnya menjelaskan tentang lengannya yang melepuh.

Setelah mandi, guardian lain mulai sibuk bersantai. Kyungsoo dan Lay mengambil beberapa botol soju dari kulkas dan snack lalu membawanya ke ruang tengah. Luhan juga ikut bergabung bersama Xiumin, Chen, dan guardian lain menonton siaran bola dari TV. Baekhyun masih mengeringkan rambutnya yang basah usai mandi dengan handuk. Chanyeol mulai terlihat terlelap di sofa. Kai dan Tao dengan iseng mengacak-acak rambut Sehun. Seperti biasa, Sehun hanya terdiam. Kali ini bukan karena canggung. Ia merengungi semua yang Luhan katakan padanya. Mereka yang ia lihat kini bersenang-senang sehabis bekerja dulunya memiliki kisah menyedihkan masing-masing, sama seperti dirinya.

“Bagaimana lenganmu?” tanya Kris, membuyarkan lamunan Sehun.

“Aku… tidak apa-apa,” jawab Sehun pelan, tidak berani menatap Kris.

“Lain kali kau harus hati-hati. Kau seorang servant, seharusnya tidak boleh terluka.”

Sehun melihat Kris berjalan ke arah kamar mandi. Sampai Kris menghilang dari pandangannya pun, Sehun masih mengerutkan dahi. Butler itu pasti mengubur dalam masa lalunya sampai tak tergali lagi. Namun, Sehun masih merasakan kejanggalan.

Kau tahu masa lalu kepala guardian?

Maksudmu Kris?

Ne

Ya… kau tahu? Siapa yang menyangka bahwa ia dulu adalah…

Advertisements
Categories: Baekhyun, Chanyeol, Chen, D.O, EXO Experience, Kai, Kris, Lay, Luhan, Sehun, Suho, Tao, Xiumin | Tags: , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “THE LOYAL GUARDIANS : Some Hurtful Pieces (A)

  1. ADENYA MARIO MAURER

    ARGGGHHHHH GUA KEPO BANGET SUMPAHHHHH! CEPET DILANJUTIN YA THOR QAQ

  2. tyanabaekki

    whoho. . . Aigo!!
    Ga nyangka masa lalu mreka sesuram itu. -_-
    kai tega bnget matahin tulang rusuknya luhan, apalagi ahjumma2 yg tega nian menampar baekhyun yg cakepnya g ketulungan. XD
    sbenernya mash pnasaran siapa yg ngeracunin lay apa bener yg ngeracunin dia si soo soo, smoga it fitnah -_- trus knapa si minseok mau bunuh diri.. . Ah aku tahu krna dia lhat makan bakpao nya /digetok author/
    hehe sneng bnget akhrnya ff ini dilanjutkan setelah sekian lama. . Keep writing and jiayou thor

  3. Setelah nunggu akhirnya di publish juga.. Gak nyangka mereka semua masa lalunya sesuram itu ._. Seruuuu

    • Iya mianhaeyo baru bisa publish
      Lama nunggu maaf ya hehe
      Aku udah kasih dua part untuk seri keempat ini
      Semoga enjoy bacanya 🙂

  4. aaaggghhrrrr !!! penasaran sama masa lalu nya kris .. gimana masa lalu nya kris ??? lanjut ya thor !!
    ga nyangka masa lalu para guardian suram semua , tapi karna suho masa depan mereka jadi baguusss .. suhi memang baik .. tapi penasaran juga kenapa suho mau merekrut luhan tao kai kyungsoo lay xiumin chen baekhyun chanyeol ?? apa alesan nya ??

    next chapter nya di tunggu banget thor !!

    • Makasih udah baca dan komentar ^^
      Nanti semua diceritakan kok di klimaks
      Tapi itu ntar dulu hehehe
      Mudah-mudahan di part selanjutnya, seri kelima 🙂
      Semoga kamu suka seri keempat ini neee

  5. Hyora Kim

    aah..
    Aku telat buka..
    Makin seru aja nii..
    Next ah..

  6. Lee Hana

    bagussssss 12jempol deh bwt authornya,lnjut bca dulu yus anyeong

  7. yeollshin

    Wahh ternyata… Wahaha siapa yg nyangka luhan, baekhyun, dan chanyeol itu tukang koran.. Wkwk baju compang camping .. Ngebayanginnya pun nggg geli 😀
    hmm kris adalah……
    Jreng jreng…. Lngsung ke seri 4 (B)
    wushhh *teleportasi sama kai*

  8. Masa lalu para guardian emang suram bgt ya.. Penggambarannya jga jelas jd enak pas ngebayanginnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: