괜찮아 (Gwaenchana) 4

Yoochun Yoon Eun Hye_Gwaenchana 4_melurmutia

괜찮아 (Gwaenchana) 4

Author : melurmutia

Casts : Park Yoochun & Yoon Eun Hye

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Drabble

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni dari author.

Note : Aku buat seri ini khusus untuk pinky day on Feb 14th. Pengen banget jadi Eun Hye yang punya pacar baik hati kayak Yoochun. Happy reading!

Tolong beri komentar setelah membaca!

Don’t plagiarize my story!

Beautiful! Keep going, keep going!

Eun Hye kini membuat gerakan cantik dengan tas merah berkilauan sesuai arahan fotografer. Sorot mata, ekspresi, bahasa tubuh, dan kemampuannya untuk mengembangkan narasi cerita dalam tema fotonya membuat fotografer itu tak henti memujinya. Bahkan di akhir pemotretan, ia begitu banyak mendapatkan best shoot sehingga membuat fotografer kebingungan memilih foto mana yang akan dipakai. Usai sesi itu, Eun Hye sekali lagi menerima pujian bertubi-tubi dari para kru. Begitu ia duduk di depan cermin besar di ruang make-up, ponselnya berdering. Ia tidak langsung menyentuh layar ponselnya. Nama pria yang sedang meneleponnya itu membuatnya tersenyum lebar.

Yeoboseyo,Yoochun-ah!” sapa Eun Hye dengan nada riang.

“Hmm… Sudah selesai? Bagaimana pemotretan untuk Elle tadi?”

Elle? Maksudmu Prada?” balas Eun Hye sambil cekikikan.

“Yaa… Itulah maksudku,” tawa Yoochun yang sungguh kesulitan mengenal merk barang.

“Baru saja selesai. Awas ya kalau kau tidak datang nanti!”

“Ye, agassi!”

Eun Hye memegang ponselnya dengan kedua tangan. Perasaannya sangat ringan hari ini, di tanggal 14 Februari ini. Ia kembali memeriksa coklat buatannya yang sudah dikemas cantik dalam tasnya, memastikan apakah tidak kusut, rusak, dan sebagainya. Mungkin Yoochun dengan mudah sudah bisa menebak tujuannya untuk bertemu dengannya. Mungkin saja ia tertawa menerima coklat pemberiannya dan kembali menggodanya ‘kekanak-kanakan’. Apa salahnya? Semua pasangan melakukan hal yang sama, kan? Ia mengembuskan napas pelan.

Eun Hye keluar dari studio setelah selesai membersihkan riasan wajah dan rambutnya. Ia mengerutkan kening sambil melirik jam tangannya di bawah remang malam. Sudah pukul tujuh malam. Itu berarti setengah jam lagi ia harus berada di taman kota sesuai janji. Ia tidak boleh terlambat karena ia sendiri yang sejak awal membujuk Yoochun untuk datang.

Saat ia hendak mempercepat langkahnya menuju halte bis terdekat, tubuhnya dengan keras menabrak seorang pria yang sedang berlari dari arah belakangnya. Eun Hye tersentak, berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, dan meringis memegang kuat lengannya karena hantaman keras tubuh orang itu. Begitu tersadar, tas yang tergantung di bahunya sudah tidak ada. Matanya membelalak kaget bukan main. Orang itu sudah beberapa meter di depannya, lari terbirit-birit membawa tasnya.

“Tolong! Ada pencopet!”

Eun Hye berlari sekuat tenaga mengejar pria tersebut. Dompet, ponsel, jurnal harian, bahkan coklat untuk Yoochun, semua ada di dalamnya. Pria itu seperti mengambil hidupnya, bagaimana mungkin ia melepaskannya begitu saja? Tidak peduli selelah apapun, ia harus terus mengejarnya, menembus kerumunan orang, berteriak histeris di tepi jalan memohon pertolongan, berharap ada seseorang yang menahannya. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya adalah alasan mengapa ia tidak bisa berlari cepat. Desain sepatunya sangat rumit untuk dilepas dari kakinya sehingga ia tetap berlari dalam keadaan seperti itu. Langkahnya melambat, ia mulai kelelahan. Ia terhenti, menopang tubuhnya dengan kedua tangan di lututnya. Napasnya tidak beraturan. Benar-benar tidak terkejar lagi.

Eun Hye hampir putus asa saat seorang lelaki tak dikenalnya menghampirinya beberapa saat kemudian. Orang itu membawakan tasnya yang dicopet sebelumnya. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan tidak percaya.

Agassi! Ini tasnya. Jangan khawatir, pelakunya sudah dilumpuhkan,” kata lelaki tersebut.

Beberapa orang berdatangan mengerumuninya. Eun Hye membungkukkan badan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantunya. Tak lama kemudian, mobil patroli di sekitar sana menggiring pencopet tersebut, membuat Eun Hye bernapas lega.

Betapa terkejutnya ia menemukan ponselnya yang sudah retak dan tidak dapat dihidupkan lagi. Menurut para saksi, ketika pencopet itu dilumpuhkan, tasnya terlempar ke jalan dan digilas oleh mobil yang lewat. Bahkan coklat buatannya itu, sudah tidak berbentuk lagi. Eun Hye mendengus sekesal-kesalnya dan tiba-tiba terdiam. Dengan cepat diliriknya jam tangan dan membelalak. Sudah pukul setengah delapan. Yoochun pasti sudah tiba di sana.

Pikirannya berputar cepat. Sebelum polisi patroli itu meminta keterangannya yang membuatnya lebih terlambat lagi, ia bergegas meninggalkan tempat itu dan lebih memilih untuk naik taksi. Dengan tidak sabaran, ia beberapa kali memohon kepada supir taksi untuk melaju lebih cepat sambil terus mendongakkan kepala ke depan. Dua puluh menit kemudian, ia akhirnya tiba di taman kota, tempat mereka akan bertemu. Sambil menahan rasa sakit di kakinya akibat aksi lari-larian tadi, ia terus berusaha mempercepat langkahnya.

Eun Hye terlalu sibuk memerhatikan jam tangannya saat seorang wanita tiba-tiba terkulai lemas di depannya. Gadis itu menjerit sambil menutup mulutnya dan bergegas menghampiri wanita itu. Ia lalu menepuk-nepuk pelan wajah wanita tersebut agar segera sadarkan diri.

Ahjumma! Ahjumma! Bangunlah! Kumohon!” pinta Eun Hye beberapa kali.

Orang-orang di sekitar taman kota berusaha membantu Eun Hye membopong wanita tersebut ke dalam taksi yang kebetulan lewat. Namun, tidak seorang pun dari mereka yang mau menemaninya membawa wanita itu ke rumah sakit. Sungguh Eun Hye tidak habis pikir. Bagaimana ini? Kalau ia ke rumah sakit sekarang, Yoochun akan menunggunya lebih lama lagi. Sudah satu jam berlalu dari janji untuk bertemu. Pada akhirnya, ia yang bertanggung jawab membawa wanita itu ke rumah sakit.

Empat puluh lima menit berlalu, mereka akhirnya sampai. Wanita itu langsung mendapat penanganan dokter. Eun Hye hanya dapat menunggu dan tidak dapat pergi begitu saja. Ia memegang kepala dengan kedua tangan. Sungguh ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Mengapa harus terjadi? Mengapa harus di hari ini? Saat ini?

“Apa Anda kerabatnya?” tanya seorang dokter setelah keluar ruangan.

“Ohh bukan! Aku hanya kebetulan membawanya ke sini saat menemukannya pingsan di taman kota,” jawab Eun Hye agak panik.

“Kalau begitu kami mohon bantuannya untuk segera menghubungi kerabat pasien berhubung…”

Eun Hye tidak begitu mendengar penjelasan selanjutnya. Pikirannya berada di taman kota, tempat ia dan Yoochun seharusnya bertemu. Bukannya terjebak dalam kondisi ini. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau, ia harus meneruskan apa yang seharusnya ia lakukan. Setelah pihak rumah sakit berhasil menghubungi keluarga wanita itu, Eun Hye segera angkat kaki dari tempat itu.

“Maaf, tapi Anda belum diperbolehkan pergi sebelum keluarga pasien datang,” ujar salah seorang perawat yang bertugas.

“Tapi, saya benar-benar ada urusan penting. Bukankah keluarganya sedang menuju ke sini?”

“Kami minta maaf. Sampai keluarga atau penanggung jawab lain datang, kami mohon Anda tetap tinggal di sini,” jawab perawat itu santun.

Eun Hye langsung terdiam mendengar penjelasan perawat itu. Dengan perlahan ia melirik jam tangannya. Pukul setengah sepuluh malam. Dengan frustrasi ia membuang dirinya ke kursi rumah sakit yang keras. Apa Yoochun masih menunggu? Sudah lewat dua jam. Dikeluarkannya ponsel dari tasnya dan seketika menepuk dahi berkali-kali, seperti mengutuk diri. Ia lupa bahwa ponselnya rusak digilas mobil saat aksi pencopetan sebelumnya. Ia kemudian mencoba untuk memakai telepon rumah sakit, namun percuma. Nomor yang ia hubungi sedang sibuk.

Merasa tidak enak hati memakai telepon lobi beberapa kali, Eun Hye akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menunggu keluarga pasien datang. Duduk dalam diam dengan pikiran dan hati yang berkecamuk. Tiap detiknya terasa sangat lama baginya. Satu jam kemudian, seorang pria tua yang mengaku keluarga pasien pun datang. Tanpa basa-basi panjang, Eun Hye langsung meninggalkan rumah sakit dan mengambil taksi untuk segera ke taman kota. Di dalam taksi ia terus berpikir bahwa Yoochun mungkin sudah pulang duluan. Diperkirakan akan sampai di taman kota pukul setengah dua belas malam. Mata Eun Hye berkaca-kaca. Siapa yang mau menunggunya selama empat jam?

Sesampainya di tempat tujuan, Eun Hye langsung berlari kencang. Kali ini tidak ada lagi yang bisa menghalanginya dan sangat berharap Yoochun masih ada di sana. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Seorang anak kecil kira-kira berusia lima tahun menangis terjongkok di jalan. Tangisannya yang hebat langsung menarik perhatian Eun Hye. Anak perempuan itu terus memanggil-manggil ayahnya. Sepertinya anak hilang. Eun Hye menatap ke sekelilingnya. Tidak ada seorang pun yang peduli. Ia menghela napas pendek. Ini memang yang harus ia lakukan.

“Ayahmu dimana? Biar eonnie bantu carikan,” hibur Eun Hye lembut, mengelap air mata di wajah anak itu, dan berusaha tetap tersenyum.

Untung saja terdapat pos polisi terdekat. Sambil terus menggenggam tangan anak itu, Eun Hye berjalan dengan tatapan kosong, tidak bergairah. Dadanya terasa sakit karena menahan tangis. Anak itu mulai terdiam dan mendongak menatap Eun Hye yang mulai berlinang air mata, menangis tanpa suara.

Eonnie, jangan menangis. Aku sudah berhenti menangis. Ayo, eonnie juga jangan menangis,” hibur anak itu tulus. “Appa eonnie juga hilang, ya?”

Eun Hye tersenyum kecil mendengar pertanyaan anak itu. Ia balas menatap kedua mata bening anak itu yang berkilauan di bawah cahaya lampu malam. Sesampainya di sana, kebetulan sekali di pos polisi itu, terdapat seorang pria yang sedang melaporkan kehilangan anak. Ia terlihat sangat menyedihkan, lebih menyedihkan dari Eun Hye. Anak perempuan itu tersadar dan langsung berlari menghampirinya.

“APPA!!!”

Pria itu seketika berbalik mendengar suara melengking itu. Ekspresinya seketika berubah saat anak itu sudah berada dalam pangkuannya. Ia balas merangkul anak itu dan menangis meminta maaf kepadanya atas keteledorannya. Eun Hye kembali melinangkan air mata. Ia tidak sanggup menyaksikannya. Hal itu lebih mengingatkannya kepada dirinya yang belum sempat menemui Yoochun hingga saat ini.

Eonnie, kamsahamnida! Semoga appa eonnie juga cepat ketemu,” kata anak itu sebelum meninggalkan kantor polisi.

Eun Hye tidak membalas perkataan anak itu. Ia hanya tersenyum sedih sambil menggenggam tangan mungilnya tanda perpisahan. Tidak lama setelah itu, ia berjalan pelan sambil terus menunduk menuju tempat ia dan Yoochun seharusnya bertemu.

Eun Hye kini memasuki bagian tengah taman kota. Dengan berat hati ia melangkah pelan menuju air mancur besar di depannya. Setelah berhenti di tepi kolam itu, kepalanya memutar ke segala penjuru. Suasana taman kota tidak terlalu ramai lagi. Yaa… orang itu pun tidak ada.

Di sekeliling tempat itu, Eun Hye melihat beberapa pasangan sedang berbincang-bincang ria, tertawa bersama, membuatnya makin sakit hati. Ia kembali menengadahkan kepala ke air mancur. Embun halus dari percikan air kolam mengenai wajahnya. Tangisnya mulai tak terkontrol. Perlahan ia terisak dan akhirnya menunduk.

Sudah pukul dua belas tepat tengah malam. Seharusnya malam ini menjadi malam yang spesial baginya. Ditengah kesibukan Yoochun mengurus perusahaan dan resort, pria itu bahkan rela meluangkan waktu berharganya hanya untuk menuruti keinginan Eun Hye. Namun karena kejadian aneh bertubi-tubi tadi, gadis itu tidak sempat bertemu Yoochun di malam yang ditunggu-tunggunya. Coklat yang akan ia berikan untuk Yoochun hasil jerih payahnya sendiri pun rusak. Apa lagi yang lebih buruk? Air matanya terus-menerus jatuh. Rasa bersalah seakan menghunusnya.

Annyeonghaseyo!”

Tangis Eun Hye seketika tertahan. Suara itu… suara berat yang dikenalnya. Ia tertegun lama. Benarkah? Dengan ragu ia menoleh dan membalikkan badan. Terihat seorang pria sedang memegang buket bunga dengan sebelah tangannya menutupi wajahnya. Dengan perlahan pria itu menurunkan buket bunga tersebut dan wajah pria itu pun nampak jelas. Tampan, berseri, dan sedang tersenyum kepadanya. Senyum yang hangat dan membuatnya tenang. Yoochun-ah!

“Wah… wah… apa yang sedang dilakukan oleh gadis cantik di depanku malam-malam begini? Apa agassi tidak takut sendirian?”

Eun Hye tidak membalas godaan Yoochun. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Yoochun masih menunggunya? Selama empat setengah jam? Sungguh?

Melihat Eun Hye yang hanya diam saja dengan wajah basah dan mata berkaca-kaca, Yoochun mulai bersikap wajar. Dengan hati-hati, ia menghapus air mata di wajah gadis itu.

“Dari mana saja kau? Bukankah ada sesuatu yang ingin kau berikan untukku? Sejak tadi aku terus menunggu dan meneleponmu. Tapi, kau tidak mengangkatnya,” ujar Yoochun sambil tetap tersenyum lembut.

Senyuman hangat lelaki itu justru membuat Eun Hye semakin rapuh. Gadis itu seketika melompat ke arahnya dan mengalungkan kedua lengannya di leher Yoochun. Ia menangis meraung-raung. Yoochun sampai menahan tubuhnya dengan sebelah kaki agar tidak jatuh ke belakang. Sesuai dugaan pria itu. Sesuatu pasti telah terjadi.

“Eun Hye-ya!” lirih Yoochun kemudian.

“Kenapa kau tersenyum padaku? Kenapa kau tidak memarahiku? Kenapa kau tidak pulang duluan saja sejak tadi?” tanya Eun Hye tanpa henti dalam tangisnya.

“Jadi, kau mau aku marah?” goda Yoochun sekali lagi.

Mendengar hal itu justru membuat Eun Hye semakin erat memeluk pria itu. Ia sungguh takut pria itu akan marah padanya, takut pria itu akan membencinya dan meninggalkannya. Membayangkannya saja sudah sukses membuatnya menangis uring-uringan. Eun Hye merasakan pria itu ikut memeluk tubuhnya yang bergetar.

Pabo! Gwaenchana! Bagaimana bisa aku marah? Kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi padamu. Kau tak kunjung datang, bahkan tidak mengangkat telepon. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Sampai kau muncul, aku baru bisa bernapas lega. Sebenarnya apa yang terjadi? Eun Hye-ya, ceritakan padaku,” ujar Yoochun sambil membelai lembut rambut indah gadis itu.

Mendengar penjelasan Yoochun, Eun Hye makin melepaskan tangisnya. Sungguh di luar dugaannya. Pria itu tidak marah padanya. Pria itu justru mencemaskannya. Ia hanya terlalu takut pada pikirannya sendiri. Eun Hye tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu dan masih sibuk mengontrol emosinya.

Karena itulah, Chun-ah… Saranghaeyo… Jeongmal.

Advertisements
Categories: My Other Fanfic | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: