괜찮아 (Gwaenchana) 3

Yoochun Yoon Eun Hye Gwaenchana 3_melurmutia

괜찮아 (Gwaenchana) 3

Author : melurmutia

Casts : Park Yoochun & Yoon Eun Hye

Genre : Fluff, Romance

Rating : PG-13

Length : Ficlet

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni dari author.

Note : Akhirnya seri ketiga keluar juga ^^ from my lovely Bogoshipda couple. Kali ini aku nggak mau buat mereka berdua nangis-nangis seperti di seri sebelumnya. Jadi, poster dan storyline-nya aku buat jadi happy mood and lovey dovey. Happy reading!

Tolong beri komentar setelah selesai dibaca!

Don’t plagiarize my story!

Kurapikan rambutku dengan jari tangan sebelum memasuki bakery yang ada di depanku. Dari kaca besar bakery tersebut, kulihat bayanganku yang sedang tersenyum manis, memastikan apakah penampilanku sudah cantik. Kulirik jam tangan di pergelanganku. Pukul delapan tepat. Ini pertama kalinya Yoochun mengajakku sarapan bersama di luar. Katanya ia menemukan sebuah bakery yang menjual gingerbread saat musim panas dan kami janji untuk bertemu hari ini.

Pintu bakery tebuka lebar sedari tadi begitu aku melangkah masuk. Kulirikkan pandanganku ke atas dan menemukan sebuah lonceng yang tergantung pintu. Tentu saja tidak berbunyi sehingga para karyawan di sana tidak menyadari kedatanganku. Suasana bakery pagi itu sangat ramai pengunjung. Terlihat kerumunan orang-orang sedang bingung memilih jenis roti dan kue yang akan mereka santap. Mataku mulai sibuk mencari-cari sosok yang kukenal. Ahh, itu dia! Sedang asyik menyesap kopinya sambil memandang ke luar jendela di meja untuk dua orang. Asap kopi itu mengepul  ke wajahnya. Bibirku langsung membentuk sebuah senyuman. Kuperbaiki letak tas tanganku di bahu sebelum berjalan menghampirinya.

“Sini, biar aku saja yang mengantar gingerbread-nya!” kata seorang waitress di depanku.

“Tidak! Kali ini giliranku!” balas waitress yang satunya sambil menarik kembali nampannya.

Tiba-tiba para karyawati berkumpul membelakangiku dan memblokir jalan. Mereka terlihat sangat menggebu-gebu, saling bercanda, dan berbisik. Namun, tetap saja bisikan mereka terdengar olehku yang tidak terlalu jauh dari mereka.

Omooo… Ini yang kedua kalinya pria tampan itu datang!”

Jeongmal? Ahhh.. iya dia ada di sana. Kyaaa…”

Ya, ya, ya! Itu pria tampan yang kemarin. Kalian tahu? Aku tidak sengaja menyemprotkan cairan pembersih ke bajunya saat sedang mengelap meja. Kupikir dia akan marah, tapi ternyata tidak! Dia tersenyum dan mengatakan ‘gwaenchan seumnida’. Senyum termanis yang pernah kulihat!”

“Wah, tak kusangka dia datang lagi!”

“Apa dia seorang eksekutif muda seperti di drama seri? Ahhh… lengkap sudah!”

“Dia selalu datang sendiri. Sepertinya belum punya pacar! Kyaaa!”

“Beruntung sekali kalau salah satu dari kita bisa mendapatkannya!”

Aku hanya bisa mengerjapkan mata setelah mendengar pembicaraan mereka. Saat salah seorang waitress mengantarkan nampan berisi gingerbread ke meja pria tersebut, aku baru menyadarinya. Orang yang mereka maksud adalah Yoochun. Mataku terbelalak tidak percaya.

Dari kejauhan, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua. Yang terlihat hanyalah waitress itu meletakkan pesanan Yoochun di depannya dan dibalas oleh senyuman hangat pria itu. Bersamaan dengan itu, teriakan pelan tak jelas terdengar dari para karyawati di depanku. Waitress di meja Yoochun seolah memberi kode kepada mereka, ‘lihat aku! Aku sedang bersamanya. Kalian pasti iri, kan?’ Membuat mereka benar-benar iri. Aku hanya bisa melongo melihatnya dan tetap berdiri di tempatku seperti orang bodoh. Keduanya lalu melakukan percakapan kecil dan pada akhirnya waitress itu membungkuk. Yoochun dengan ramahnya ikut menundukkan kepala sambil tersenyum.

Waitress yang mengantar pesanan Yoochun kembali kepada mereka dan lanjut memuji-muji pria itu. Namun, tidak lama setelahnya, mereka akhirnya menyadari keberadaanku.

Eoseo oseyo (selamat datang)!” sapa mereka serentak sambil membungkuk pelan.

Aku ikut membungkuk dan tersenyum. Suara sapaan mereka yang bersamaan tentu saja menarik perhatian beberapa orang untuk menoleh ke arahku, termasuk Yoochun. Ia mengangkat sebelah tangannya tidak terlalu tinggi, menyapaku dari jauh, bermaksud memberi tahuku dimana posisi duduknya yang sejak awal sudah kuketahui. Ia tersenyum kepadaku.

“Yoon Eun Hye!”

Para karyawati itu bergantian menoleh kepadaku dan Yoochun dengan ekspresi tidak percaya. Terus terang saja, aku tidak mampu menyembunyikan perasaan gembiraku. Aku merasa aga sombong. Bagaimana tidak? Orang yang mereka elu-elukan, orang yang mereka berharap mendapat perhatian darinya, hanya melihat lurus ke arahku. Saat aku berjalan menghampiri Yoochun, kulirikkan pandanganku sekilas kepada para karyawati itu. Entah mereka patah hati, kecewa, atau kesal, mereka tersenyum kecil padaku dan pergi berlalu, kembali ke pekerjaan mereka dalam diam.

Begitu aku duduk di depan Yoochun, pria itu memanggil waitress yang tadi untuk datang ke meja kami.

“Tolong bawakan caffe latte yang kupesan tadi untuknya,” pinta Yoochun lembut.

“Ahhh n, neealgae seumnida…” jawab waitress itu pelan.

Kamsahamnida,” balas Yoochun.

Dari sudut mataku, aku tahu bahwa kerumunan karyawati itu pasti sedang membicarakanku. Aku sampai tidak enak hati. Kuintipkan pandanganku kepada mereka. Memang benar, itulah yang terjadi. Mereka melihat ke arahku juga dan ketika pandangan kami bertemu, mereka seketika berbalik, seakan salah tingkah. Mataku kembali menatap Yoochun dan kembali teringat oleh pujian-pujian para karyawati tadi, membuatku sadar bahwa betapa beruntungnya diriku memiliki pria yang begitu sempurna ini.

Wae? Sejak tadi kau melamun,” tanya Yoochun kemudian.

Pria itu menggeser pelan cangkir kopi ke tepi meja. Ia mendekatkan wajahnya tepat di depanku, membuatku seketika terpaku oleh dua bola matanya.

Seandainya ia tahu bagaimana orang-orang sungguh mengaguminya. Memang benar yang dikatakan oleh mereka dan akulah gadis yang beruntung itu, gadis yang begitu dicintai olehnya. Geu namja… aku mengenalnya lebih dari yang mereka tahu…

***

“Yoon Eun Hye!”

Kulambaikan tanganku ke arah gadis itu dengan perasaan sumringah. Ia tersenyum dan begitu ia melintas untuk duduk di depanku, aku bisa mencium wangi Sugar Pink yang lembut dari tubuhnya, mengalahkan aroma lezat gingerbread hangat di atas meja. Aku baru ingat telah memesan caffe latte untuknya dan meminta waitress yang mengantar pesananku tadi agar segera membuatkannya. Agak sedikit berlagak untuk memulai pembicaraan, kulirik jam tanganku.

“Pukul delapan lewat empat menit. Kau terlambat, agassi!” godaku kepadanya lalu menyesap Americano-ku.

Entah ia mendengarnya atau tidak, sejak tadi ia hanya menatapku. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya. Aku juga tidak begitu yakin.

Wae? Sejak tadi kau melamun,” tanyaku kembali.

Lagi-lagi gadis itu tidak menjawab. Akhirnya kugeser cangkir kopiku ke sisi meja sehingga aku bisa meletakkan tangan kiriku di atas meja, mencondongkan tubuhku, mendekatkan wajahku, dan mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajahnya.

“Eun Hye-yaaaaa….”

Kedua bola mata gadis itu mengikuti arah gerak tanganku. Ia tersadar dan menepis tanganku dari wajahnya sambil tertawa kecil. Aku tetap memasang ekspresi ingin tahu. Ia memutar bola matanya.

Ani! Gwaenchana! Ayo cepat makan kuemu!” elaknya sambil memasukkan satu gingerbread ke mulutku.

Kukunyah kue itu lalu merasakan kelezatannya. Hal serupa kulakukan pula pada Eun Hye. Saat ia mengunyah kue yang kusuapkan untuknya, gadis itu memandang langit-langit bakery, seperti sedang memikirkan rasanya.

“Memang apa bedanya?” tanya gadis itu kebingungan.

“Ngg? Kau tidak sadar? Di Virginia pun tidak ada yang seenak ini!” jawabku meyakinkannya lalu mengambil satu kue lagi dari piring.

Gadis itu kembali tertawa. Aku sungguh menikmati sarapan pagi hari itu bersamanya. Kami membahas banyak hal yang bisa menghidupkan suasana jadi hangat. Bahkan saat gingerbread dan minuman kami telah habis, aku masih belum mau beranjak dari tempat tersebut. Aku masih ingin melihatnya tersenyum dan bercerita segala hal kepadaku. Usai sarapan, kami pun keluar dari bakery. Di depan bakery tersebut, aku baru teringat hal penting. Hampir saja kulupakan!

“Aku punya sesuatu untukmu!” kataku pada gadis itu dengan agak kaku.

Eun Hye masih menunggu saat aku mengeluarkan benda tersebut dari mobil. Begitu kusodorkan benda itu kepadanya, gadis itu seperti termenung melihatnya untuk beberapa detik. Dalam waktu singkat itu, perasaanku berkecamuk. Jangan-jangan ia tidak menyukainya…

“Kau sungguh memberikan mawar putih itu untukku?” tanya Eun Hye tidak percaya.

“Menurutmu?” jawabku singkat sambil mendeham salah tingkah. “Apa salah kalau aku memberimu hadiah?”

Ani! Ini kan bunga sungguhan dalam pot kecil. Kalau orang lain biasanya kan…” jawab Eun Hye sambil tersipu.

“Kalau aku bisa memberimu bunga sungguhan, kenapa aku harus memberimu bunga plastik?” ujarku sambil melihat ke arah lain dan lagi-lagi berdeham.

Di luar dugaanku, gadis itu cekikikan, membuatku sempat melongo. Ia tertawa dan langsung meraih pot kecil itu dari tanganku sambil tertunduk malu.

“Chun-ah, gomawoyo!”

Perasaanku bergetar dalam sekejap. Ia menyukai pemberianku. Tanpa sadar aku tersenyum. Apa lagi yang paling berarti selain melihatnya bahagia seperti itu. Tiba-tiba tangan gadis itu seakan bergerak hendak menyentuh tanaman tersebut. Sebelum ia berhasil melakukannya, dengan cepat kugenggam tangannya dan menjauhkannya dari tanaman berduri itu. Ia sempat kaget lalu perlahan kedua bola matanya bergerak menatapku.

“Ini bukan bunga plastik, Eun Hye-ya,” kataku kepadanya tanpa melepaskan tangannya.

Arasseo!” jawabnya sambil mengangguk. “Kau pergi duluan saja.”

“Sudah kubilang sebelumnya aku akan mengantarmu,” kataku tetap bersikeras. Kueratkan genggaman tanganku padanya.

Gwaenchana! Aku tidak mau karena diriku kau jadi terlambat dalam meeting nanti. Aku mengerti kau ingin mengantarku. Tapi, lebih baik aku pulang sendiri saja. Chun-ah, terima kasih untuk hari ini.”

Gadis itu balas menggengam tanganku. Ia berjalan selangkah ke arahku dan langsung menyandarkan kepalanya di bahuku. Wangi Sugar Pink itu semakin jelas tercium.

“Telepon aku kalau kau sudah sampai,” jawabku yang pada akhirnya menuruti keinginannya sambil menepuk pelan bahunya.

Ne! Jangan khawatirkan aku.”

Gadis itu berjalan mundur sambil memeluk pot kecilnya. Sebelah tangannya melambai ke arahku. Ia kemudian berbalik dan bergegas menuju halte bis di persimpangan jalan di ujung sana. Aku masih belum ingin pergi sebelum ia lepas dari jangkauanku. Tidak sampai beberapa detik, ia telah berjarak sangat jauh dariku.

Kulihat ia menyeberang jalan bersama pejalan kaki lainnya. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, ia melihat seseorang sedang terjatuh. Kertas dalam map yang dibawa orang itu bertebaran di sekitar jalan besar sana. Gadis itu nampak terkejut dan berbalik ikut membantu orang tersebut mengumpulkan berkasnya tanpa seorang pun selain dirinya yang peduli. Perasaanku digeluti rasa kagum.

Setelah ia selesai dengan hal itu, sesampainya di ujung jalan, ia menghampiri seorang wanita tua yang kelihatannya sedang kebingungan. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang terlihat adalah Eun Hye yang seperti memberikan pengarahan kepadanya sambil tersenyum lembut. Mereka kemudian menunggu bis datang. Eun Hye terlihat sedang tertawa saat berbincang dengan wanita tua itu. Ia merangkul erat pot kecil pemberianku dan sesekali menundukkan kepala untuk mencium wangi mawar putih itu. Bis pun datang. Dengan ramah ia menuntun wanita tua itu masuk ke dalamnya.

Bis melaju melewati bakery tempatku berdiri sekarang. Dari kaca jendela, ia sempat kaget melihatku yang masih belum beranjak pergi. Dengan begitu terburu-buru, ia membuka kaca jendela kecil dan tersenyum lebar ke arahku sambil meneriakkan namaku dengan kencang.

Gadis itu pasti begitu dicintai oleh siapapun yang mengenalnya. Ia begitu peduli terhadap orang lain, tidak peduli apakah dirinya akan terluka. Aku adalah orang yang paling beruntung karena gadis itu bersedia menerimaku dan percaya padaku.

“Park Yoochun!!!”

Karena gadis cantik yang baik hati itu… geu yeoja… dia adalah kekasihku.

Saatnya memberi komentar ._.v

Advertisements
Categories: My Other Fanfic, TVXQ | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “괜찮아 (Gwaenchana) 3

  1. hei! aku datang berkunjung ;;)
    I found typo ‘-‘)/ aga = agak hehehe
    FF mu bagus ya, apalagi cast nya… favoritku 🙂
    aja aja fighting! keep on writing, eonni-nim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: