괜찮아 (Gwaenchana) 2

Yoochun Yoon Eun Hye Gwaenchana 2_melurmutia

괜찮아 (Gwaenchana) 2

Author : melurmutia

Casts : Park Yoochun & Yoon Eun Hye

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : PG-15

Length : Ficlet (1000 words)

Disclaimer : I do not own the casts. Ide cerita murni milik author.

Note : Hay Hay Hayyy… Ini cerita kedua dari Gwaenchana, my lovely Bogoshipda couple. Silahkan baca seri pertamanya di sini. Ini cerita berseri kok, bukan chaptered. Happy reading!

Tolong tinggalkan komentar setelah dibaca! ^^

Don’t plagiarize my story!!!

Yoochun mencengkeram erat dadanya, berusaha mengusir rasa takutnya. Sejauh mata memandang, hanya ada dirinya dan pantai yang berombak tenang di depannya. Sore itu, langit nampak kemerahan. Matahari di ujung sana seakan hampir tenggelam ke dalam laut. Angin tak berhenti menyibaknya, membuat rambutnya berantakan tak keruan. Bunyi desir ombak semakin membuat dirinya kembali ke masa lalu. Ia menutup mata saat memori itu kembali berputar di otaknya dan sejenak menahan napas. Saat ombak tiba-tiba datang menyapu kedua kakinya, barulah ia tersentak dan kembali bernapas. Seakan tidak sanggup mengingat masa itu, ia perlahan berjalan mundur selangkah menjauhi gelombang air tersebut. Pandangannya kosong.

Saat ombak datang, ia seakan ingin menyerangmu. Saat ombak pergi, ia seakan ingin membawamu bersamanya. Sama seperti saat itu. Saat ia harus menerima bahwa orang yang paling berharga baginya diserang dan dibawa pergi olehnya.

Eommaaaaaaaaaa!!!

Tanpa sadar setetes air jatuh dari sebelah pelupuk matanya. Yoochun bahkan masih bisa mendengar suara teriakannya sendiri 20 tahun yang lalu. Ia seakan melihat dirinya di tepi pantai itu sedang menangis meraung-raung. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat ibunya terseret ombak saat hendak mengambil bola kesayangannya yang mengapung. Betapa takutnya ia melihat ibunya menjerit di tengah laut, berjuang beberapa kali untuk muncul di permukaan kemudian menghilang karena sudah tidak sanggup bertahan, sedangkan ia sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Ibunya yang terombang-ambing itu kembali terseret arus ombak ke tepi pantai. Sungguh ia tidak menyangka bahwa ombak itu seakan merampas ibunya. Ironisnya, ombak itu mengembalikan ibunya ke sisinya setelah mempermainkannya dalam keadaan tak bernyawa.

Tidak! Ini salahku. Kalau saja waktu itu aku tidak membujuk eomma untuk mengambil bola itu…

Yoochun berusaha mengatur napasnya. Air matanya kembali mengalir. Sang ombak masih terus berusaha untuk menyapu kedua kakinya. Seketika itu juga ia kembali melangkah mundur. Ia kemudian menengadah dan tersenyum miris.

Eomma, aku datang mengunjungimu. Maafkan aku baru datang kali ini.”

Yoochun memukul keras dadanya yang sesak karena menahan tangis. Memang benar. Semua hal tersebut terjadi karena dirinya. Mengapa ia terus menyalahkan sang ombak? Ia hanya terlalu takut menerima kenyataan. Orang itu berakhir tragis karena kesalahannya sendiri.

Eomma, jeongmal mianhaeyo,” lirih Yoochun sambil terisak.

Teringat kembali saat ia berlari menghampiri ibunya yang terdampar di tepi pantai. Dengan tangan kecilnya, ia berusaha menyandarkan kepala ibunya ke dadanya dan terus menangis sambil berteriak di depannya. Berulang kali ia memohon kepada ibunya untuk bangun. Namun, orang di pangkuannya itu hanya terdiam kaku. Tubuhnya sangat dingin. Yoochun kembali memeluk ibunya erat. Saat ombak datang, ia berteriak frustrasi dan menjauhkan dirinya dan ibunya dari jangkauan gelombang air itu. Sejak saat itu, ombak sudah menjadi bagian tergelap dalam hidupnya.

“Yoochun-ah!”

Suara yang dikenalnya itu membuatnya tertegun. Suara yang mampu membuatnya melupakan segala hal buruk yang dirasakannya. Suara yang mampu membuatnya merasa kembali tenang. Ia perlahan membalikkan badan. Seorang gadis berdiri menatapnya dengan wajah cemas. Rambut panjangnya yang kecoklatan tergerai indah oleh angin laut. Wajahnya kemerahan diterpa oleh sinar matahari sore, membuat hati Yoochun seketika teduh. Wanita itu berjalan ke arahnya. Tatapan Yoochun tak teralihkan oleh kedua bola mata di depannya.

“Hhhh… ternyata perasaanku benar. Kau ada di tempat ini.”

Yoochun sungguh tidak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh gadis itu barusan.

“Kau tidak mengangkat telepon. Aku benar-benar cemas, kau tahu? Untung saja aku menemukanmu di sini!” ujarnya sambil memegang kedua lengan Yoochun.

“Eun Hye-ya…”

“Lain kali jangan seperti ini. Kau harus mengajakku. Kalau memang kau tidak mau aku ada di hari peringatan kematian ibumu, paling tidak kau harus mengangkat teleponmu!”

“Bukan seperti itu. Aku hanya…”

Belum sempat Yoochun melanjutkan penjelasannya, Eun Hye sudah mengeluarkan sapu tangannya dan dengan lembut ia mengelap wajah pria itu yang basah oleh air mata. Hatinya ikut perih melihat keadaan pria itu. Melihatnya terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

“Aku mengerti perasaanmu,” balas Eun Hye sambil tersenyum tulus.

Perasaan Yoochun seketika damai. Wanita itu masih terus menghapus air mata dari wajahnya, sementara ia tidak terlepas dari kedua bola mata Eun Hye. Gadis itu seperti menyeretnya jauh masuk ke dalam ketenangan. Mengusir segala ketakutan dalam dirinya. Yoochun perlahan memegang tangan Eun Hye yang memegang sapu tangan di wajahnya, membuat gadis itu tertegun.

Eun Hye menatap kedua mata namja di depannya itu. Tatapan yang begitu sendu dan hangat. Tatapan yang membuatnya begitu mencintai lelaki itu.

“Eun Hye-ya…”

Jantung Eun Hye berdetak lebih cepat dari biasanya. Lelaki itu kembali memanggil lirih namanya. Nada suaranya sangat menyentuh. Kejadian ini bukan untuk yang pertama kalinya. Eun Hye tidak mampu bergerak sedikit pun. Ia seakan terkunci oleh tatapan Yoochun yang dalam.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, menerbangkan sapu tangan Eun Hye dari tangannya. Mereka berdua mengikuti arah pandang sapu tangan itu yang pada akhirnya jatuh di tengah ombak.

“Ahh! Sapu tanganku!”

Seruan Eun Hye seakan membuat Yoochun terkejut. Terbesit di pikiran pria itu bahwa Eun Hye akan berjalan ke arah ombak untuk mengambilnya dan benar saja. Gadis itu melepaskan tangannya dari Yoochun dan melangkah pergi. Pria itu membelalak takut. Seketika rasa takut itu kembali menyelubunginya bertubi-tubi. Kali ini lebih hebat. Gadis itu akan berjalan menemui ombak. Sama seperti ibunya.

ANDWAE!!!”

Eun Hye terlonjak akan teriakan Yoochun. Belum sempat ia menoleh ke belakang, belum sempat ombak menyambut kedua kakinya, dengan sigap Yoochun menarik tangannya hingga ia terangkul dalam dekapan pria itu. Yoochun memeluk Eun Hye erat saat ombak menyapukan kedua kaki mereka. Pria itu terguncang hebat. Ia sangat takut kejadian itu akan terulang, apabila ombak itu kembali mengambil orang yang dicintainya, sama seperti 20 tahun yang lalu. Eun Hye melirik Yoochun di sampingnya.

“Yoochun-ah…”

Andwae.. AndwaeAndwae!!!”

“Yoochun-ah gwaenchana…”

“Eun Hye-ya!”

Gadis itu bisa merasakan tubuh Yoochun bergetar, detak jantung pria itu yang berdebar keras, dan napasnya yang terengah-engah. Ombak kembali menerjang kaki mereka. Yoochun kembali tersentak dan mempererat pelukannya kepada gadis itu. Air matanya kembali jatuh. Eun Hye membelai lembut pundak Yoochun dan menyandarkan kepala di bahu pria itu.

“Yoochun-ah, tenanglah. Ia tidak akan menyerangku. Ia hanya menyambutku,” kata Eun Hye lembut.

Pria itu terdiam tidak mengerti apa yang dikatakan Eun Hye. Dari pundaknya, ia bisa merasakan bibir gadis itu membentuk sebuah senyuman.

“Apa kau tidak pernah berpikir bahwa ombak yang datang bermaksud untuk membelaimu? Yoochun-ah, kurasa itulah yang terjadi. Mungkin ibumu hendak menyapamu lewat ombak ini. Pada hari ini.”

Ucapan Eun Hye membuat Yoochun melonggarkan pelukannya. Gadis itu perlahan melepaskan diri dari pria itu lalu menggenggam kedua tangannya. Ombak kembali datang. Entah kenapa setelah Eun Hye berkata demikian, gelombang air yang menyapu kakinya terasa hangat dan lembut. Bagaikan sebuah bentuk sapaan dari ibunya.

Eomma, kaukah itu?

Beberapa menit telah berlalu. Yoochun kini merasa lebih baik dan mulai terbiasa dengan keadaan tersebut. Pria itu tersenyum kecil, membuat Eun Hye sempat tidak percaya. Mereka kembali saling menatap dalam senyum.

Gomawoyo, Eun Hye-ya!”

Wajah gadis itu merona merah. Bukan karena cahaya matahari sore, melainkan karena ucapan tulus dari Yoochun. Sejenak ia tertunduk dan tersenyum.

Yoochun-ah, akan kulakukan apapun untuk mengobati ketakutanmu. Aku akan terus bersamamu…

Okay, saatnya memberi komentar! (._.)v

Advertisements
Categories: My Other Fanfic, TVXQ | Tags: , , , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “괜찮아 (Gwaenchana) 2

  1. Han Ahreum

    Kurang panjang thorrr ><
    Ntar seri 3 nya harus lebih bagus!! '-')9 Hwaiting!!

    PS: Hati-hati thor, tadi kedapatan typonya '-')/

  2. audranatika

    Bagus,tpi kurng panjang, gomawo ^.^
    Di tunggu ya seri ketiganyaaa!!!

    • Makasih udah mampir baca
      Sebenarnya aku memang niat nulis seri Gwaenchana ini jadi ficlet aja
      Tapi aku usahain seri ketiganya lebih panjang 😉

  3. yllah

    where can i read an english version of this ??

  4. yllah

    i really love to read the story of eun yoon hye and park yoochun,i wish you can make the full translated version,and that would be wonderful.. im from the philippines 🙂

    i really love eun yoon hye 🙂

  5. yllah

    me too. :).actually i downloaded all the soundtracks of i miss you ..though its korean i printed out the english version so that i can relate to the music 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: