School Life Diary 3

School Life Diary 3_melurmutia

Author : melurmutia

Casts : Kim So Hyun & Yeo Jin Goo

Genre : School life, Romance

Rated : PG-13

Length : Series

Disclaimer : I do not own the casts. Ketemu lagi di seri ketiga School Life Diary. Yang suka nonton drama MBC The Moon That Embraces The Sun dan Missing You pasti tahu. Aku suka banget sama mereka jadi langsung nulis fanfic tentang couple ini. Happy reading! ^^

Mohon tinggalkan komentar setelah baca, ya! Tidak susah kan memberi komentar? 😉

“Kau tidak boleh pulang sendirian. Setidaknya ada seseorang yang menemanimu atau mungkin memapahmu kalau kau kesakitan.”

            So Hyun mengiyakan perkataan petugas kesehatan dengan wajah murung. Ia yang masih duduk melintang di tempat tidur ruang UKS hanya bisa pasrah dengan pergelangan kaki kanannya yang dibalut perban. Bodoh sekali ia tiba-tiba saja tersandung anak tangga kecil karena berjalan tanpa melihat ke depan. Karena berjalan sambil melihatnya dari kejauhan.

            Di tengah lapangan basket, orang itu dengan lincahnya men-dribble bola, mengecoh lawannya, dan berlari memasukkan bola tersebut ke ring dengan pose yang menurutnya cukup keren. Pertandingan dua lawan dua itu akhirnya dimenangkan olehnya. Semua orang di tepi lapangan langsung bersorak sambil melompat kegirangan. Teriakan tak terkontrol yang didominasi para gadis remaja itu membuat So Hyun ikut terkagum dari tepi koridor kelas. Di bawah cahaya matahari yang tidak terlalu terik, orang itu tersenyum penuh kemenangan. Semua orang lalu berlari ke lapangan menghampirinya dan berbagi suka cita.

Semuanya berlalu sungguh cepat sampai-sampai gadis itu tidak menyadari bahwa tubuhnya telah tersungkur ke lantai. Ia terdiam sejenak sambil meringis dalam posisinya itu. Saat hendak bangkit, ia mengerang pelan menahan sakit yang mengganjal di pergelangan kakinya. Karena itulah ia berakhir di ruang UKS sekolah.

“SO HYUN-A!!!”

Terdengar bunyi pintu yang tiba-tiba terbuka. Orang itu pun muncul dengan matanya yang membesar. Pandangan mereka bertemu. So Hyun langsung saja memalingkan mukanya yang seketika memerah. Ekspresi malunya itu tertutupi oleh rambut lurus panjangnya. Orang yang berdiri di ambang pintu itu menghela napas pendek dan berjalan menghampiri gadis itu. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di sisi tempat tidur dan mendekatkan wajahnya ke gadis yang masih tidak mau menatapnya.

“Hhhh… jangan-jangan kau mengkhayal sambil jalan lagi, ya?”

Aish! So Hyun tidak tahu harus berkata apa mendengar ucapan Jin Goo. Lelaki itu selalu saja membuatnya mati kutu. Bagaimana cara melawannya untuk bicara? Dari sudut mata So Hyun, Jin Goo kemudian mengambil ransel gadis itu dan menggantungnya di bahu kirinya. Kini ia membawa dua ransel. Lelaki itu kembali beralih kepada So Hyun yang langsung menunduk.

“Janji bertemu di taman nanti kita batalkan saja. Kau sedang sakit. PR kali ini kau kerjakan sendiri, ya!”

So Hyun membelalak dan tiba-tiba berbalik menatap Jin Goo. Lelaki itu tersenyum kecil. Jelas sekali So Hyun kecewa dengan keputusannya. Padahal nantinya di taman tersebut, Jin Goo juga berencana akan mengatakan sesuatu padanya. Entah apa itu.

“Jin Goo-ya, gwaenchana!”

Ani! Kalau kakimu bengkak bagaimana?”

Jin Goo baru akan pamit kepada petugas kesehatan yang telah menolong So Hyun dan saat ia berbalik, gadis itu sudah melangkah ke depan pintu. Dengan hati-hati ia menyeret kaki kanannya ke lantai sehingga harus berjalan pelan dan agak pincang. Jin Goo memerhatikannya dari belakang. Pasti sangat sulit melakukannya.

Tiba-tiba ia meraih sebelah lengan So Hyun dan mengalungkannya di bahunya untuk memapahnya berjalan. Tentu saja gadis itu terbelalak dengan aksi Jin Goo. Sebisa mungkin ia melepaskan diri darinya namun percuma saja. Jin Goo terlalu kuat untuk dilawan.

“Jin Goo-ya? Apa yang kau lakukan? Kalau dilihat teman-teman yang lain bagaimana?” tanya So Hyun cemas, masih bersikeras agar Jin Goo berhenti memapahnya.

Mwo? Aku tidak mengerti maksudmu! Yang aku tahu, sekarang ini aku sedang membantumu berjalan. Ara?” jawab Jin Goo asal, seakan tidak peduli perkataan gadis itu.

Mereka berdua kini keluar dari ruang UKS. So Hyun merasakan hawa panas yang menguap di sekelilingnya. Tatapan tajam dari segala penjuru, khususnya para siswi yang seakan cemburu padanya pun berdatangan. So Hyun perlahan menegakkan kepala menatap Jin Goo yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Orang itu sepertinya tidak menyadari situasi tersebut. Jin Goo adalah idola para siswi di sekolah. Siapa yang tidak cemburu melihatnya sedang memapah seorang gadis yang bukan siapa-siapa? So Hyun harus siap mental.

Beruntung jarak rumah So Hyun tidak begitu jauh setelah berjalan kaki beberapa menit. Jin Goo membantu So Hyun menapaki anak tangga untuk memasuki gerbang rumah. Saat Jin Goo hendak pulang setelah mengantarnya, gadis itu masih saja menunduk. Jin Goo sontak tersenyum kecil melihatnya yang kecewa.

“Baiklah! Sore nanti kita tidak bisa bertemu di taman untuk kerja PR karena kondisimu. Bagaimana kalau aku saja yang ke rumahmu nanti?” usul Jin Goo.

Seketika So Hyun langsung menatap lurus ke arah Jin Goo dengan tatapan tidak percaya. Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyuman. Matanya yang redup menjadi berbinar senang. Jin Goo membalas senyumannya sambil berjalan mudur untuk pulang dan melambaikan sebelah tangannya. Pandangan mereka tak terputus sampai Jin Goo menghilang di balik gedung di ujung jalan.

So Hyun berjalan pincang menuju kamarnya. Ia langsung duduk di depan meja belajarnya setelah membuang ranselnya ke atas bantalan di sudut kamar. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap jendela tepat di depannya dan termenung sejenak. Sadar dari lamunannya, ia membuka kaca jendela itu dan membiarkan udara dingin berhembus masuk memenuhi kamarnya. Diraihnya ranselnya dengan susah payah tanpa beranjak dari kursinya dan mengeluarkan buku kecil dari dalam sana. Ia mengambil beberapa spidol warna-warni yang terpajang rapi di sudut meja.

Lagi-lagi aku bertindak ceroboh hingga kakiku terluka. Aku sampai malu bertemu dengannya di ruang UKS tadi sampai kami harus membatalkan janji bertemu di taman. Semua karena aku!

So Hyun berhenti menulis dan kembali melirik ke luar jendela, menatap langit. Walau demikian, pikirannya seakan melayang entah kemana. Angin mulai bertiup menyibak wajahnya hingga ia akhirnya tersadar saat mengerjap. Ia menghembuskan napas dengan berat dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku tahu mereka semua cemburu dan merasa iri padaku. Tapi, entah kenapa saat Jin Goo yang berada di dekatku, aku merasa aman. Semua rasa cemasku seketika menguap melihatnya tersenyum untukku. Sepanjang perjalanan itu, seperti biasa, aku memegang dadaku yang tak berhenti berdegup kencang agar tak kedengaran olehnya.

So Hyun menyandarkan kepala di atas kedua lengannya di atas meja. Ia menutup matanya dan berusaha merenungkan kembali kejadian tersebut.

Jin Goo ingin mengatakan sesuatu padaku. Jangan-jangan… ahh… Kim So Hyun, lagi-lagi kau berharap terlalu banyak. Memangnya kau siapa baginya?

Udara yang membelai So Hyun semakin dingin hingga ia menggigil. Bahunya bergetar kedinginan. Ia teringat perkataan Jin Goo entah kapan itu.

“Saat seseorang terkena api sedikit saja, ia pasti akan terlonjak bergerak tak karuan seketika itu juga untuk meredamkan api. Namun, saat seseorang sedang kedinginan, ia terkadang tidak sanggup menghangatkan tubuhnya sendiri. Hanya diam sambil menggigil di tempatnya karena tak berdaya hingga ia membeku.”

So Hyun membuka matanya perlahan dan merapatkan kedua lengannya lebih dekat dengan kepalanya. Ia seharusnya menutup jendela yang sangat dekat di depannya dan mengambil selimut yang terlipat di sudut kamar agar tubuhnya hangat. Namun, entah kenapa tubuhnya menolak melakukannya, seperti yang dikatakan Jin Goo.

***

            So Hyun membuka mata dari tidurnya dan masih berada dalam posisinya itu. Ia meringis memegang lehernya yang sakit karena salah posisi tidur. Kedua lengannya pun ikut kram. Baru ia akan berdiri saat ia sadar bahwa sebuah selimut menutupi punggungnya dan jendela di depannya sudah tertutup. Keningnya berkerut kebingungan. Setelah melihat warna langit berubah gelap dari luar jendela, mata dan mulutnya terbuka lebar. Ia melirik jam weker. Pukul 17.07 malam hari.

            “OMOOO!!! JIN GOO-YA!!!”

            So Hyun tiba-tiba berdiri dan kembali terduduk karena rasa sakit di pergelangan kakinya. Sambil memegang bagian yang pedih itu, pikirannya mengarah ke Jin Goo. Dengan tertatih ia keluar kamar dan tidak melihat siapa-siapa lagi selain eomma-nya.

            “Aigoo So Hyun-ah! Kau baru bangun? Tadi Jin Goo ke sini tapi karena kau ketiduran, ia langsung pulang!” ujar eomma-nya sambil melanjutkan membuat makan malam.

            “Mwo? Eommaaaa!!! Kenapa tidak membangunkanku? Ahhhh…” rengek So Hyun di ambang pintu kamarnya.

            “Yaaa!!! Jin Goo sendiri yang tidak mau membangunkanmu aish jinjja! Cepat cuci mukamu dan makan malam!”

            So Hyun kembali berjalan pelan ke kamarnya dan duduk di depan meja belajar dengan wajah muram. Tidak di taman, tidak di rumahnya, ia sendiri yang membatalkan janji. Ia meraung-raung tidak jelas dan sesekali memukuli kepalanya sendiri. Ditengah kegalauannya itu, secarik kertas yang sepertinya bukan miliknya menarik perhatiannya. Ia mengambil kertas yang diletakkan tepat di atas buku diary-nya dan kembali kaget melihat tulisan tangan yang dibacanya.

            Apa kataku! Kalau saja tidak ada seseorang yang menutupkan jendela dan menyelimutimu, mungkin kau akan membeku. So Hyun-ah, kau istirahat saja. Kita bertemu besok lagi di sekolah. Berusahalah mengerjakan PR tanpa diriku, ara? Kau pasti bisa!

            So Hyun menghela napas pendek. Ternyata Jin Goo memang datang dan tidak membangunkannya. Ini bukan masalah PR atau sejenisnya, melainkan hal itu. Tentang sesuatu yang ingin dikatakan Jin Goo kepadanya. Lagi-lagi ia melewatkannya. Padahal ia sudah sangat menunggu saat itu. Mungkin saja apa yang diharapkannya terkabul, tentang perasaan Jin Goo terhadapnya. Jika itu jadi kenyataan.

            So Hyun membungkus tubuhnya dengan selimut di balik kursinya. Pandangannya menerawang ke luar jendela. Sepertinya ia akan berhenti berharap. Namun, apa salahnya menyukai seseorang yang mungkin tidak memiliki perasaan apapun pada kita?

            Gadis itu terdiam sejenak saat menyadari sesuatu di balik jendela dari gelapnya suasana malam di luar. Ada sesuatu yang tergantung di tali jemuran pakaian tidak jauh dari jendela. Sontak So Hyun langsung membuka kaca dan mengulurkan sebelah tangannya untuk meraihnya. Dugaannya benar. Ia menemukan sebuah kertas pink berbentuk hati dengan tulisan tangan Jin Goo di atasnya.

            So Hyun-ah saranghae

            Gadis itu terpaku sambil tetap menatap kertas itu. Detak jantungnya langsung menggila. Kali ini ia tidak memegang dadanya untuk meredam bunyi degup tersebut, tetapi membiarkannya berdetak seperti itu, membiarkan detak jantungnya membahana di kamarnya.

Advertisements
Categories: My Other Fanfic | Tags: , , , , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “School Life Diary 3

  1. haloha~ 😆
    akhirnya baca part 3nya di sini.. yang di ffl gak update2, jadi kupikir di blognya lulu mungkin bakal ada.. dan bingo! ada.. 😆
    ini sohyun jatoh beda kasus sama yang dia hampir jatoh di tangga di part sebelumnya ya? soalnya di sana dia ditahan sama jingoo kan??
    OMO! itu jingoo jangan2 baca diary sohyun lagi? kok dia gak curiga sih jingoo masuk kamar, ninggalin pesan.. bisa jadi kan ngintip2 dikit.. #itumahgueyangkepo 😆
    sweet nih, jadi masih ada lanjutannya kah? atau selesai di sini aja karena jingoo kan juga udah nyatain perasaannya? soalnya banyak ff yang emang sengaja ngegantung endingnya supaya readers bisa berimajinasi sendiri.. 😆

    • Aku sebenarnya mau posting di sana lagi kok
      Tapi aku suka ngulur-ngulur waktu akhirnya sampai sekarang belum diposting hahaa
      Sebenarnya aku mau lanjut tapi berhubung I Miss You tamat
      Greget School Life Diary-ku juga ikut tamat
      Entah ini bakal lanjut atau tidak aku juga masih mikir Lumie -_-
      Thanks bgt udah baca <3333333

  2. refsti

    Ada lanjutannya lagi gak Min? enak soalnya =D hehe ❤

  3. ema

    Min lanjutin lagi.yha critanya.bagus banget please di neks yha 😉 ditunggu loh

  4. Lanjutin lagi…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: